Rabu, 01 Oktober 2014

Penempatan Definitif DJPB 2014 (part 2)

KPPN Tipe A2 Liwa, Kantor Wilayah DJPB Propinsi Lampung

Begitulah kira-kira informasi yang ada di lembar kertas itu. Setelah mengetahui saya dapat penempatan di Kota Liwa, Lampung, yang notabene tidak jauh dari pulau Jawa, teman-teman memberikan selamat. “waahh..selamat ya. Enak dong deket cuma di Lampung.” Mmm...dekat ya. Yakin?

(FYI: dekat jika ditarik garis lurus  dari peta itu tidak selalu dekat dalam arti yang sesungguhnya. Nanti akan saya ceritakan seberapa “dekat” Kota Liwa yang sebenarnya. Haha...)

Setelah ada kepastian mendapatkan penempatan di Kota Liwa, saya segera menelpon ibu. (percakapan dalam bahasa jawa, saya translate ke bahasa indonesia ya. ^.^)
Saya    : “Assalamualaikum..buk....”
Ibu    : “Waalaikumsalam le. Gimana kamu dapet penempatan di mana?”
Saya    :  “Alhamdulillah buk aku dapet penempatan di Liwa”
Ibu    : “Liwa itu tempatnya di mana le. Ibu kok baru denger.”
Saya    : “Liwa itu di Propinsi Lampung buk. Alhamdulilah gak jauh-jauh banget dari Jawa.”
Ibu    : “Alhamdulillah le, ibu ikut seneng. Yang penting kamu ga dapet penempatan di Indonesia  timur aja udah bagus.
Saya    : “Iya buk. Yaudah ya buk, ini mau nyari tau penempatan temen-temen dulu. Assalamualaikum”
Ibu    : “Oiya le, waalaikumsalam.”

(FYI: “Le” adalah panggilan untuk menyebut  anak laki-laki dalam bahasa Jawa)

Sejenak saya mengamati suasana di halaman gedung ex-MA tempat dibagikannya SK Penempatan. Dari sudut ke sudut tergambar beragam ekspresi dari para pegawai baru setelah mendapatkan SK pertamanya. Ada yang nampak kegirangan karena dapat penempatan di ibukota propinsi, ada yang ceria karena dapat kota penempatan yang sama dengan teman lama, bahkan ada yang menangis karena dapat penempatan jauh terpisah dari cowoknya *ups.

Menarik sekali menyaksikan satu per satu ekspresi teman-teman begitu keluar dari aula gedung ex-MA setelah menerima SK.  Ada yang keluar dengan ekspresi harap-harap cemas, tetapi ada juga yang keluar dengan berteriak-teriak heboh. Sementara itu, kami yang sudah menerima SK terlebih dahulu sibuk berkeliling untuk mencari tahu penempatan teman-teman lainnya. Entah mengapa suasana pada siang hari itu lebih didominasi perasaan riang gembira. Jauh sekali dari perkiraan saya. Saya sempat mengira dibagikannya SK akan memberi suasana yang galau dan sedih. Syukurlah kami semua bisa menerimanya dengan baik.

Kalau saya waktu itu malah bingung mau pasang ekspresi seperti apa. Perasaan saya biasa-biasa saja. Ekspresi datar --,--
Tapi kalau boleh jujur, saya sendiri merasa sedih, bukan karena kota penempatan, tetapi lebih karena harus berpisah dengan kawan-kawan yang sudah seperti saudara sendiri. Tiba-tiba teringat memori ketika awal-awal pengarahan di gedung yang sama setahun sebelumnya, serunya outbond 3 hari di Citarik, kebersamaan ketika On The Job Training (OJT) selama lebih dari 7 bulan, betahnya 3 minggu DTU dan DTSD di Gadog, “tersiksanya” kami digulung-gulung Kopassus ketika diklat Prajabatan, dan tentu saja kebersamaan selama 4 bulan magang jauh di KPPN Jakarta 5. Semuanya kami lalui bersama-sama. Sejak keluarnya SK itu berarti juga kebersamaan kita segera berakhir. T.T

Setelah menerima SK Penempatan, kami tidak kembali ke kantor magang kami masing-masing karena hari itu agendanya hanya pengarahan oleh Setditjen di kantor pusat. Oleh karena itu, untuk “merayakan” penempatan, kami satu kelompok pegawai magang KPPN Jakarta 5, meskipun tidak semuanya, bersama-sama main ke Atrium Plasa yang tidak jauh dari kantor. Berangkat dari Jalan Wahidin II tengah siang sekitar jam 11.00 dengan menumpang angkot, hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai Atrium Plasa. Di sana kami langsung menuju Platinum Resto untuk makan siang. Cukup lama kami nongkrong di sana, mungkin sejam lebih. Entah mengapa suasana di Atrium kali itu sangat sepi, tidak seperti biasanya. Percakapan kali itu didominasi tentang penempatan yang barusan diterima masing-masing dan disertai dengan candaan-candaan seperti biasanya.

Sangat jarang kami bisa kumpul-kumpul seperti ini, meskipun tidak full team. Seingat saya, terakhir kali kami bisa berkumpul yaitu ketika buka puasa bersama di Pejaten Village Mall, tidak jauh dari KPPN Jakarta 5. Memang sering kami main bareng, tapi mungkin hanya berempat atau berlima saja. Selesai makan siang, kami pun memutuskan untuk nonton film di XXI Atrium Plasa sembari menunggu waktu sore hari. Ketika itu kami memilih film “The Expendables 3”. Film dimulai jam 13.45 dan berakhir jam 15.45. Di dalam teater, saya lebih banyak mengantuk daripada fokus nonton film. Haha...

Ketika film berakhir, kami pun berpisah. Ada yang langsung pulang ke kosan dan ada juga yang mampir ke Matahari Atrium Plasa. Saya ikut main ke Matahari untuk sekadar jalan-jalan melepas penat. Setelah bosan dan waktu menunjukkan jam 16.00, saya memutuskan untuk pamit pulang ke kosan yang sebenarnya tidak jauh dari Atrium. Ternyata momen itulah terakhir kalinya kami, pegawai magang KPPN Jakarta 5, makan dan berkumpul bersama. Saya akan selalu mengingatnya.

Sebelum keluar dari Atrium Plasa, saya mampir dulu ke Breadtalk untuk beli roti favorit saya, Butter Sugar. Akhirnya saya berjalan keluar meninggalkan Atirum Plasa menuju kosan yang jaraknya mungkin hanya 8 menit berjalan kaki. Di perjalanan pulang itu ada perasaan yang sedikit janggal. Entahlah. Suasana sedih tiba-tiba menyelimuti saya sore hari itu. Saat masuk ke Jalan Kwini, tiba-tiba teringat memori saat awal-awal tinggal di sana. Jalan yang tiap pagi saya lewati untuk berangkat ngantor. Jalan yang nantinya tidak akan saya lewati lagi. Langkah menjadi berat karena memori itu akan sangat membekas meskipun belum ada setahun tinggal di sana. Matahari masih bersinar dengan terangnya meskipun sudah hampir senja, menemani hati yang menyadari bahwa harus segera pergi, meninggalkan semua kenangan.

“...apakah kau melihat langit mentari senja, mengajak untuk menerima keadaan saat ini dan terus maju. Dan bila kehilangan sesuatu, pastilah suatu saat nanti hal itu akan tergapai. Langit sekitar mulai berubah menjadi gelap. Dihias oleh titik garis yang terbentuk dari bintang-bintang. Sampai hari esok tibalah nanti. Lihatlah mimpi seperti dirimu sendiri...”

**********************************************************************************

Sekadar informasi, penempatan definitif angkatan kami semuanya tidak ada yang dapat di Jawa. Semuanya menyebar ke seluruh pelosok Indonesia mulai dari KPPN Sabang sampai KPPN Merauke, dari KPPN Atambua sampai KPPN Tahuna. Tiap kantor biasanya mendapatkan 2-3 orang pegawai baru, tetapi ada beberapa kantor yang hanya mendapatkan seorang pegawai baru. Jika dibandingkan dengan pernyataan sebelumnya yang menyebutkan bahwa kami hanya akan dapat penempatan di KPPN A2 di luar Jawa, NTB, Bali, dan Lampung, sepertinya kurang tepat. Karena pada kenyataannya, memang hanya Jawa yang tidak menerima pegawai baru. Di tempat “terlarang” lain seperti NTB, Bali, dan Lampung masih menerima pegawai baru. Tambahan lagi, penempatannya tidak hanya di KPPN A2. Memang sebagian besar di KPPN A2, tetapi banyak juga yang dapat penempatan di KPPN A1 daerah, KPPN A1 ibukota propinsi, dan kantor wilayah DJPB.

Apa dasar penempatan definitif??
Pertanyaan yang bagus.

Setditjen DJPB menyatakan bahwa penempatan kami diputuskan berdasarkan hasil TKD (Tes Kompetensi Dasar), hasil assessment, penilaian selama magang, dan DTSD (Diklat Teknis Substansi Dasar). #cmiiw
Sejak awal magang, kami sudah diberi tahu kewajiban untuk mengisi kegiatan kami selama magang ke dalam aplikasi SUNTARA dan di akhir sesi magang (sekitar bulan April/Mei 2014)  kami diwajibkan untuk membuat semacam karya tulis dengan topik yang sesuai dengan tempat magang yang kita dalami. Tapi entah mengapa saya tidak terlalu percaya penentuan penempatan serumit itu. Haha...

Kalau boleh menebak-nebak, sepertinya ada keterkaitan antara daerah penempatan dan domisili. Akan tetapi, hal ini hanya berlaku bagi pegawai baru yang berasal dari luar Jawa. Sementara itu, mayoritas pegawai yang berasal dari pulau jawa tidak ada kaitannya sama sekali karena pegawai yang berasal dari Jawa tidak boleh dapat penempatan di Jawa. -,-

Pegawai baru yang berasal dari Sumatera cenderung dapat penempatan di Sumatera juga. Begitu pula dengan Kalimantan dan Bali. Pegawai baru yang berasal dari Sulawesi justru kebanyakan dapat penempatan di daerah Papua. Sementara itu pegawai baru yang berdomisili di Jawa mendapatkan penempatan yang menyebar dari Aceh sampai Papua. Entah ini valid atau tidak. Namanya juga ilmu kira-kira tapi memang begitulah adanya. Haha...

Satu hal yang harus dicatat, pola penempatan ini tidak selalu sama dari tahun ke tahun. Tiap tahun itu mempunyai tren yang berbeda. Untuk tahun-tahun berikutnya mungkin akan ada perbedaan tergantung kebijakan yang diambil ^.^.

Mungkin sekian dulu cerita saya kali ini.

Untuk teman-teman senasib seperbendaharaan, teruslah berjuang di tempat kalian masing-masing. Jangan jadikan jarak sebagai sebuah beban. Sulit memang berjauhan dari keluarga dan orang-orang terkasih. Anggaplah ini sebagai sebuah proses pendewasaan untuk kita. Kalau dulu waktu kuliah di STAN atau magang di Jakarta bisa tiap bulan pulang ke rumah. Dengan kondisi yang sekarang ini, bisa pulang 3 kali dalam setahun saja sudah sangat bersyukur. Jangan menyerah karena kita sudah berjalan sejauh ini. Teruslah berkarya kawan-kawanku semuanya. Semoga kita nanti bisa berjumpa lagi. Saya bangga menjadi bagian dari kalian. 

Untuk adik-adik kelasku yang mungkin membaca tulisan ini, jangan pernah khawatir dengan momok yang bernama “penempatan”. Asal kita ikhlas dan menjalaninya dengan sabar, Insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Janganlah kau ragu menjadi bagian dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang tercinta ini. Biarlah orang lain berkata apa. Jangan ada sedikit pun keraguan di hatimu. Niatkanlah bekerja untuk beribadah. Doa orang tua selalu menyertaimu. Mari kita bersama-sama membangun negeri tercinta ini.
Read more

Kamis, 25 September 2014

Penempatan Definitif DJPB 2014 (part 1)

SENIN 18 Agustus 2014

Nampaknya menjadi hari yang akan berakhir seperti biasanya bagi saya. Kegiatan saya di awal minggu setelah perayaan HUT RI ke-69 itu seperti rutinitas yang saya jalani sebelumnya. Bangun pagi-pagi, pergi ke kantor naik transjakarta, kerja, pulang lagi ke kosan sekitar jam 18.30.  Sesampainya di kosan langsung saya langsung mandi lalu bersiap keluar untuk makan malam di warung nasi goreng di depan gang masuk kosan. Sekitar jam 20.30 ketika saya sedang nonton TV di kosan, tetiba handphone saya berdering suara notifikasi grup Whatsaap kelompok magang KPPN Jakarta 5. Saya kira isi percakapan di grup tersebut hanya obrolan-obrolan ringan biasa. Setelah saya baca-baca, ternyata ada info dari PIC kelompok magang KPPN Jakarta 5 yang mengabarkan bahwa keesokan harinya yaitu Selasa, 19 Agustus 2014, kami (pegawai magang DJPB 2013-2014) yang berjumlah 155 orang semuanya diundang untuk menghadiri acara yang diadakan oleh Setditjen DJPB di Gedung ex-MA, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat jam 08.00. Waktu itu sama sekali belum ada kejelasan mengenai teknis acara tersebut seperti apa. Akan tetapi, hampir semua teman seperbendaharaan berspekulasi bahwa besok adalah hari pembagian SK Penempatan. Dyaaaar...

(FYI: KPPN adalah Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara yang merupakan kepanjangan tangan/kantor vertikal DJPB yang ada di daerah. Tugas utamanya adalah dalam hal pencairan dana APBN satker-satker pemerintah pusat yang ada di daerah *singkat aja penjelasannya #cmiiw)

Malam itu, saya sempatkan bertelepon dengan ibu dan mengabarkan kalau besok kemungkinan akan dibagikan SK penempatan definitif. Ibu saya tidak lupa mendoakan yang terbaik buat saya. Saya juga dinasehati supaya terus berdoa agar mendapat penempatan yang baik. Sejak dari awal, ibu saya berharap saya tidak dapat penempatan di daerah Indonesia bagian timur, terutama Papua, NTT, dan Maluku. Entah apa alasannya.

(FYI: belakangan saya tahu kalau ibu tidak pengen saya dapet penempatan di Indonesia Timur karena katanya daerahnya tidak aman. Padahal saat magang, saya sangat ingin dapat penempatan di daerah eksotis Indonesia timur seperti Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Saya bahkan sempat ingin memilih Bau-Bau kalau diperbolehkan memilih. Akan tetapi kenyataan berkata lain -,-)

Beberapa menit bertelepon dengan ibu, hati saya sedikit tenang. Sebelum tidur saya tiba-tiba teringat percakapan saya dengan adik via telepon beberapa hari sebelumnya, dia menebak saya akan mendapat penempatan di daerah Lampung. Dia mendapat firasat itu ketika menjemput saya pulang mudik Lebaran di bandara Adi Soemarmo sebulan sebelumnya. Ketika itu dia melihat seorang bapak-bapak keluar dari bandara dengan mengenakan jaket bertuliskan “KPPN Lampung”. Ah saya rasa tidak mungkin. Impossible.

(FYI: ketika awal pengarahan dan orientasi, Setditjen DJPB memberitahukan bahwa penempatan angkatan kami semuanya akan disebar di KPPN tipe A2 di seluruh Indonesia kecuali Jawa, Bali, NTB, dan Lampung. Apakah nantinya akan seperti itu? Kita lihat saja nanti.)

Sambil menebak-nebak apa yang akan terjadi pada esok hari, kami semua juga tidak lupa berdoa jikalau besok memang hari penentuan bagi kami. Kabar penempatan definitif seakan menjadi “berita panas” buat kami. Sudah sejak lama kami menantikan kabar mengenai pengumuman penempatan definitif. Mungkin sudah sejak kami mengikuti DTSD, kabar mengenai penempatan tersebut makin sering terdengar. Jika instansi lain seperti DJP, DJBC, dan DJKN sudah mengumumkan penempatan definitifnya masing-masing, instansi kami ini sepertinya sengaja menunggu diklat Prajabatan selesai terlebih dahulu. Pada tahun 2014, diklat Prajabatan terbagi menjadi 4 gelombang yang dimulai dari bulan Mei dan berakhir pada bulan Juli. Kami memperkirakan pengumuman penempatan definitif akan dilakukan setelah Lebaran, yaitu sekitar bulan Agustus 2014. Saya pribadi ketika itu berharap pengumuman penempatan definitif keluar awal tahun 2015 saja karena sudah terlanjur betah magang di KPPN Jakarta 5. Hehe...

SELASA 19 Agustus 2014. Apakah hari itu tiba?

Saya terbangun dengan kondisi badan yang pegal-pegal karena semalam tidak nyenyak tidur. Beberapa kali terbangun karena kepikiran acara esok harinya. Karena jarak dari kosan ke gedung ex-MA di Lapangan Banteng tidak terlalu jauh, saya sengaja berangkat agak siang. Sudah lama sekali rasanya saya tidak melewati jalur ke kantor pusat DJPB itu. Dulu pada awal magang di kantor pusat sekitar akhir tahun 2013, saya terbiasa berjalan kaki menyusuri ramainya jalanan ibukota. Jarak dari kosan ke kantor pusat hanya sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Saya berangkat jam 6.30 dan tiba di dekat Gedung ex-MA sekitar jam 7.00. belum ada banyak orang di sana. Beberapa menit kemudian barulah berdatangan kawan-kawan dengan wajah yang khawatir. Jam 07.30 kami dipersilakan masuk ke dalam aula utama Gedung ex-MA dengan terlebih dahulu mengisi daftar hadir dan mengambil kotak snack. Di dalam aula utama yang berarsitekstur Eropa kuno itu (sok tau),  meja dan kursi sudah ditata sedemikian rupa hingga membentuk formasi lingkaran dengan 2 baris kursi di tiap sisinya.

Tidak lama kemudian para petinggi Setditjen masuk ke ruangan. Seketika itu juga MC langsung membacakan susunan acara yang hanya terdiri dari: Sambutan/pembukaan oleh Sesditjen, Acara inti, dan Pembacaan doa. Singkat memang. Sedikit lega karena tidak ada agenda pembagian SK penempatan definitif. Tapi tunggu dulu, kalau hanya acara sharing session mengapa ada beberapa pejabat Setditjen yang datang. Menjadi pertanyaan buat saya. Akan tetapi, saya tetap berharap hari itu hanya acara sharing session antara pihak Setditjen dengan para pegawai magang. Sepertinya harapan saya tadi terkabul karena acara inti hanya berisi pemaparan kegiatan magang yang telah dijalankan dan tanya jawab. Ketika memasuki acara inti yaitu pemaparan tentang kegiatan magang, panitia sempat sedikit menyinggung mengenai masalah penempatan. Beberapa orang dari kami sempat bertanya tentang kapan dan bagaimana teknis penempatan. Wah mulai timbul rasa khawatir jika hari itu benar-benar dibagikan SK penempatan kami masing-masing. Hingga acara inti berakhir nampaknya tidak ada tanda-tanda akan dibagikan SK penempatan. Tibalah kami pada sesi terakhir yaitu pembacaan doa. Alhamdulillah. Saya sedikit lega. Mungkin memang belum saatnya kami keluar dari Jakarta.

Ketika doa sedang dibacakan oleh panitia, saya sempat bersyukur karena tidak jadi dibagikan SK penempatan pada hari itu. Yes...yes..yess.. Akan tetapi kok rasa-rasanya ada yang aneh. Tunggu sebentar. Apa ya yang tadi sepintas dibacakan oleh pembaca doa. Saya baru menyadari dalam pembacaan doa tadi ada kalimat yang kira-kira seperti ini “...Ya Allah Ya Tuhan kami, berikanlah kami kekuatan untuk menerima SK Penempatan kami pada hari ini dengan ikhlas...”

Deggg....jantung saya pun sejenak berhenti berdetak karena kaget dengan apa yang dibacakan di dalam doa tadi. Setelah doa selesai dibacakan, kami semua histeris. Ada perasaan senang, sedih, terharu, dan sebagainya. Semuanya bercampur menjadi satu. Senang karena akhirnya turun juga SK Penempatan definitif kami yang berarti sudah ada kejelasan dan tentu saja sedih karena harus berpisah dari teman-teman sesama pegawai magang maupun dengan rekan-rekan pegawai di KPPN Jakarta 5. Tidak lama kemudian seorang pegawai Setditjen masuk ke aula utama Gedung ex-MA dengan membawa setumpuk besar map berwarna putih dan diletakkannya di meja Kasubag Mutasi yang tadi bertugas sebagai pembicara utama. Begitu tumpukan map besar tadi diletakkan di atas meja, Kasubag Mutasi langsung memberikan nasehat buat kami yang isinya kira-kira seperti ini “...hari ini kalian akan menerima takdir kalian masing-masing, jangan anggap penempatan ini sebagai sebuah beban untuk kalian. Jadikanlah penempatan ini sebagai sebuah proses untuk menuju kesuksesan di masa depan. Percayalah. Kami (para pejabat) dulunya juga seperti kalian. Kami bisa menjadi seperti ini setelah melalui proses yang sangat panjang dan ditempatkan di berbagai penjuru Indonesia. Ikhlaslah menerima penempatan kalian pada hari ini...”

Sebelum membagikan SK Penempatan, panitia tidak lupa memberitahukan bahwa terhitung mulai hari Jumat, 21 Agustus 2014 kami sudah dibebastugaskan dari kewajiban magang kami di tempat masing-masing dan harus sudah lapor di kantor baru tanggal 15 September 2014.  Berarti masih ada waktu sekitar 3 minggu untuk membereskan urusan di Jakarta dan tentu saja pulang kampung. Kami makin histeris dibuatnya. Saya berusaha menarik napas panjang untuk sejenak menenangkan diri. Akhirnya tibalah sesi tambahan yang sebenarnya tidak ada di agenda acara pada hari itu, yaitu pembagian SK Penempatan definitif. Kami diminta untuk tenang sejenak. Setelah pembacaan doa tadi, suasana di aula Gedung ex-MA berubah menjadi riuh. Pembagian SK Penempatan dilakukan urut sesuai abjad mulai dari A hingga Z. Satu per satu menerima SK masing masing. Total ada 155 pegawai lulusan prodip dan 4 orang pegawai seleksi umum S1. Ketika nama dipanggil, langsung maju mengambil map dan menandatangani 2 lembar tanda terima lalu dipersilakan keluar dari aula dengan tertib. Karena nama saya diawali dengan huruf “A”, saya akan mendapatkan SK di awal-awal. Kalau urutannya sesuai dengan daftar hadir yang ada di depan tadi, berarti saya mendapat urutan yang ke-29. Semoga saja saya siap menerimanya. Waktu itu saya tidak berharap banyak akan ditempatkan di tempat yang enak (minimal ibukota propinsi). Saya hanya berdoa supaya diberikan kekuatan dan keikhlasan dalam menerima SK.

Akhirnya saat-saat yang mendebarkan itu datang juga. Saya sangat tegang saat menerima map putih yang di dalamnya berisi SK penempatan definitif. Setelah menandatangani tanda terima dan bersalaman dengan panitia, saya buru-buru keluar ruangan. Di luar, saya sudah disambut teman-teman yang sudah menerima SK terlebih dahulu. “Dapet penempatan di mana?” begitulah pertanyaan kawan-kawan ketika itu. Saya belum sempat membuka map tetapi teman-teman yang lain sudah tidak sabar ingin tahu. Ketika saya buka map putih tadi ternyata berisi selembar SK CPNS dan satu amplop berwarna cokelat yang di dalamnya berisi SK Penempatan. Saking tegangnya, tangan saya sampai gemetaran. Untuk membuka amplop cokelat itu pun saya butuh waktu beberapa menit. Setelah amplop terbuka, saya langsung fokus mencari nama kota penempatan saya tanpa memperhatikan nomor SK atau detail-detail lainnya. “hadduuuuh...mana ya tulisan nama kotanya?” Karena tegang, saya tidak menyadari kalau nama kota penempatan dituliskan di paling bawah SK Penempatan. Nama kota penempatan juga ada di balik SK tersebut. Saya sempat tidak menemukannya. Justru teman saya yang berhasil menemukan nama kota penempatan saya. Dan ternyata kota penempatan pertama kali saya adalah.....

(pict-nya nyusul gan. ane publish dulu deh ya ^.^)
Read more

Kamis, 05 Desember 2013

White Jasmine


Waktu itu perang dunia sedang berkecamuk di tanah Bavaria
Kaisar Romawi kembali bangkit menguasai bumi
Empat bintang berjajar menyambut kemenangan
Para gladiator pulang dengan kebanggaan
Bulan ketujuh datang sebagai bulan baru

Dengarkanlah....
Para saudagar Persia berlayar melintasi Terusan Panama tahu apa yang harus kau lakukan
Ketika pelangi kehilangan 2 berkas cahaya berurutan
Keindahan pun memudar
Karena keduanya saling terhubung

Sekuntum bunga melati putih tumbuh di negeri 9 raja
Negeri yang belum pernah merasakan pahit getirnya peperangan
Jika menjadi satu-satunya petunjuk
Tameng adalah kuncinya
Kunci untuk membuka pintu surga
Hanya 3 orang perompak yang mengetahui rahasia

Kau tahu, aku bukanlah aku
Ku tahu, kau bukanlah kau

Semuanya telah berbeda
Arah angin telah berubah
Bumi dan bulan makin jauh terpisah

Kau tahu, aku menantikan hari itu
Ku berharap kau pun begitu
Kau tahu supermoon itu
Aku pun begitu
Lintasan elips memberikan keuntungan

Kau tahu, setelah itu akan menjauh lagi
Aku pun tahu harus begitu
Kau tahu apa yang harus kau lakukan
Aku pun begitu

Read more

Jumat, 29 November 2013

On The Job Training (OJT48)

Setelah sekian lama absen, (saya bermasalah dalam hal konsistensi menulis) akhirnya saya kembali buka-buka blog curhatan alay tercintah ini. Ternyata masih ada banyak hal yang (lagi-lagi) belum sempat disampaikan. haha... *lempar sepatu
Kali ini mumpung lagi nganggur magang di Direktorat Sistem Perbendaharaan (DSP), Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan dan mumpung ada koneksi internet dari si kinal (nama modem saya), akhirnya saya putuskan untuk menulis sepatah dua patah kata untuk para permirsah di rumah. Mmmm..tapi mau ngomong apa ya. -____-

Posisi saya ini lagi magang/On The Job Training (untuk selanjutnya kita singkat jadi OJT48) di instansi eselon 2 Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) yang terdiri dari:
  • 8 instansi pusat (kecuali Setditjen) di Gedung Prijadi I, II, III Jl. Wahidin, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat,
  • Kantor Wilayah (kanwil) DJPB di Otista, Jakarta Timur, dan
  • 3 Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) di Juanda (KPPN 4 dan 6) serta di Lapangan Banteng (KPPN 2)
Kegiatan magang sendiri dirolling tiap 2 minggu sekali. Untuk 2 bulan pertama, saya dan teman-teman kelompok 5 kebagian OJT48 di kantor pusat, yaitu Direktorat PPK BLU, APK, SP, dan TP. Otomatis, saya yang ngekos di daerah Senen masih nyantai pulang pergi jalan kaki, berangkat dari kosan jam setengah 7, sampai di kantor jam 7 pagi. Awalnya jalan kaki ke kantor yang paling cepat memakan waktu 20 menit itu sangat menyusahkan, apalagi bawa tas yang isinya banyak banget. Serasa jogging pagi-pagi sambil angkat beban selama 20 menit. hahaha... Tetapi setelah OJT48 berjalan seminggu, saya sudah terbiasa dengan rutinitas ini. 

Mulai pertengahan Desember, kami akan melakukan OJT48 di kanwil daerah Otista Jakarta Timur. Saya sendiri belum survei ke sana, tetapi kalau dilihat lewat peta jalur busway, sepertinya lumayan jauh juga. Saya yang berangkat dari halte Kwitang harus transit dulu di halte Senen Central, lalu transit lagi di halte Matraman ganti Transjakarta yang ke arah Kampung Rambutan. Kalau kata teman-teman, kanwil itu dekat dengan halte Bidara Cina. Berarti nanti saya juga harus turun di halte Bidara Cina *ya iyalah

Kalau dihitung dari halte Kwitang (tempat saya mulai perjalanan) ke halte Bidara Cina (Kanwil DJPB), ternyata harus melalui 11 hate dan 2 kali transit. Masalahnya saya belum bisa mengestimasikan lamanya perjalanan karena saya memang malas belum survei ke sana. Yang pasti saya tidak mungkin jalan kaki lagike kantor. Berarti saya harus berangkat pagi-pagi memburu Transajakarta tarif hemat 2 ribuan. haha

Setelah 2 minggu OJT48 di Kanwil, mulai akhir Desember sampai Februari, kami akan pindah kantor ke KPPN di Juanda. Untuk menjangkau tempat itu juga harus dengan sarana transportasi. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh (hanya jarak sekitar 5 halte busway kalau dari halte Atrium, turun di halte Pecenongan). Dulu sebenarnya sempat dikirimkan sepeda angin dari adik di Palur untuk saya yang dikirim lewat kereta api, tetapi malah saya kembalikan lagi ke rumah. *maaaap. Karena menggunakan sepeda angin justru akan tambah ribet, harus muter dulu. Selain itu, jalanan ibukota yang sekejam ibu tiri membuat saya malas bersepeda.

Sebenarnya kegiatan OJT48 ini direncanakan berakhir sekitar bulan Maret tahun depan. Akan tetapi, dari Setditjen sudah mewanti-wanti kami harus selalu bersiap diri karena rencana yang disusun sampai bulan Maret itu bisa saja berubah tergantung keluarnya SK CPNS kami. So, kalau SK keluar sebelum bulan Maret tahun depan, kegiatan OJT48 otomatis berakhir dan langsung masuk ke tahapan diklat-diklat sebelum kami diusir ditempatkan ke KPPN A2 di seluruh Indonesia.

Untuk masalah penempatan definitif, menurut kabar dari rumput yang bergoyang, kami diminta untuk memilih 2 KPPN A2 di seluruh Indonesia. Alhamdulillah lah ya bisa milih sendiri penempatan, minimal milih KPPN Wonosari lah yang ga jauh-jauh amat dari Palur. Berarti bisa pulang kampung sering-sering dong?? Siapa bilang!!! -___-

Kok bisa?? Kami memang disuruh milih sendiri daerah penempatan nanti, tetapi milihnya itu harus KPPN A2 di luar Jawa, Lampung, Bali, NTB. Huaaaaaahhhh...... T_T

Kami (saya dan teman-teman dari spesialisasi Kebendaharaan Negara), menurut formasi dari Kemenp*n akan ditempatkan di KPPN A2. Sementara itu, untuk teman-teman yang berasal dari Spesialisasi Akuntansi masih berpeluang dapat penempatan di kanwil. Lumayan lah ya kalau dapat ibukota propinsi. Sampai saat ini, saya sendiri belum yakin dengan kedua pilihan saya. Rencananya saya akan milih KPPN Bau-Bau dan KPPN Tanjung Pandan. Mungkin lain kali saja ya saya jelaskan kenapa saya bisa milih 2 KPPN tadi. *peace

Sekian dulu permirsah, kita lanjutkan kapan-kapan lagi di kesempatan yang akan datang.

Happy friday, happy freeday. Besok libuuuuuuuurrrrr.......
Read more

Selasa, 12 November 2013

The Last Days

Hiyaaaaaah…..akhirnya nulis lagi setelah sekian lama sengaja absen karena males. Haha…
Mmmmm…kali ini saya mau nulis tentang wisuda saya dulu (10 Oktober 2012), mumpung masih inget -___- (biar ada jembatannya juga dari cerita yang sebelumnya ke cerita saya yang lain nanti)

Setelah sebulan PKL di KPPN Solo, setelah sekian lama mengerjakan laporan PKL, setelah bolak-balik konsultasi ke dosbing, setelah seminggu ikut “wajib militer” di markas kopassus cijantung, setelah mengikuti prosesi yudisium internal bersama teman-teman seperjuangan, akhirnya kuliah saya beres juga. :D
Wisuda STAN lulusan 2012 ini akan diadakan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor pada hari Rabu, 10 Oktober 2012. Tempat itu sengaja dipilih karena kapasitas ruangannya yang besar dan tidak sulit dijangkau dari kampus kami di Bintaro.Jika biasanya wisuda  diadakan di Jakarta Convention Center ( JCC), kali ini panitia sepertinya sepaham dengan saya yang ingin wisuda di Bogor. Yap, saya memang berharap acara itu diadakan di Bogor saja karena SICC dekat dengan rumah om saya di Bogor. Jadi, tidak perlu repot-repot bangun tengah malam ikut rombongan bus ke SICC.Alhamdulillah :D

Saat itu biaya untuk ikut wisuda sekitar Rp850.000,00 per orang sudah termasuk semua perlengkapan wisuda seperti toga, liontin, souvenir, 2 orang pendamping wisuda, dll. Menurut perwakilan dari panitia, (katanya) harga setinggi itu sudah termasuk murah jika dibandingkan dengan acara wisuda di tempat lain.Setelah berkonsultasi dengan keluarga, akhirnya saya segera daftar acara wisuda di hari pertama supaya urusannya cepat beres serta berharap antreannya belum banyak. Dan benar saja, saat itu saya dan Bang Sandro yang sengaja daftar di hari pertama  berangkat pagi-pagi sekitar jam 8 pagi ke Bank Mandiri depan Bintaro Plasa, teman-teman belum banyak yang mengantre untuk membayar uang wisuda. Setelah kurang lebih 30 menit mengurus pembayaran, kami langsung menuju ke Gedung I untuk registrasi dan ukur badan untuk baju toga. Saat itu sekitar jam 10 pagi urusan saya daftar wisuda sudah beres, tinggal nunggu pengambilan toga, undangan, dan perlengkapan wisuda lainnya beberapa hari kemudian.

Karena saya daftar wisuda di hari pertama, serah terima perlengkapan wisuda pun juga lebih cepat daripada teman-teman lain yang daftar belakangan.Di saat teman-teman belum menerima perlengkapan wisudanya, saya sudah dapat perlengkapan wisuda beserta undangannya dengan lengkap.Sementara itu, teman-teman yang menerima perlengkapan wisuda belakangan, ternyata yang diterima belum komplet.Itu juga yang sempat membuat panitia wisuda diprotes keras di media sosial.

Seminggu sebelum wisuda, saya segera mengepaki barang-barang untuk dibawa pulang ke Palur.Tiga tahun kuliah ternyata barang-barang bawaan saya “beranak pinak”. Sempat saya perkirakan hanya perlu 4 buah kardus besar ternyata dibutuhkan 7 buah kardus besar untuk mengepak barang-barang saya seperti pakaian, buku, bedcover, gelas, piring, dll. Saya sempat bingung mencari kardus besar yang mampu mengangkut barang-barang saya tadi.Untungnya mas-mas penjaga toko kelontong langganan saya memberi beberapa buah kardus besar, Alhamdulillah. :D

Karena sudah tidak ada kegiatan di kampus dan semua urusan tentang pendaftaran wisuda sudah beres, saya bisa seharian beres-beres barang bawaan saya dan memasukkannya ke dalam kardus. Setelah beberapa jam, akhirnya semua barang yang akan dikirim ke rumah sudah masuk ke dalam kardus. Total ada 7 buah kardus. Itu pun masih ada beberapa barang yang belum terangkut seperti kipas angin, printer, monitor, laptop, dll yang rencananya akan saya angkut setelah acara wisuda sekalian pulang ke Palur.
Setelah memperhitungkan banyak hal, saya pun memutuskan untuk mengirimkan kardus-kardus tadi lewat bus Kramat Jati karena biayanya lebih murah dan agennya dekat dengan kosan saya. Hari itu, sekitar jam 10 pagi, saya mulai angkut satu per satu kardus-kardus tadi ke agen bus Kramat Jati yang jaraknya sekitar 400 meter dari kosan saya dengan jalan kaki -__-

Sekali berangkat, saya bawa 2 kardus sekaligus supaya lebih cepat.Berarti, saat itu saya 3 kali bolak balik membawa kardus ke agen bus. Padahal masing-masing kardus beratnya sekitar 30kg -____-
Saat itu biaya untuk mengirimkan kardus-kardus ke rumah sekitar 100 ribu lebih. Tapi kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih murah daripada dikirim lewat jasa ekspedisi lain.


Senin, 8 Oktober 2012
Saat itu, seperti biasa, sudah tidak ada kuliah, tidak ada ujian.Saya hanya menikmati hari-hari terakhir di Bintaro seperti biasa, seolah tidak ada hal yang spesial.Padahal lusa, hari Rabu, adalah hari yang bersejarah buat saya. Saya tidak ada ide akan ke mana dan melakukan apa pada hari itu. Dari pagi, saya melakukan aktivitas seperti biasa, nonton tv sambil internetan. Karena bosan, akhirnya sekitar jam 9, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke luar kos. Tiba-tiba tersirat ide untuk makan es pisang ijo di Jalan Pisok, depan kampus. Warung es pisang ijo itu adalah salah satu tempat makan favorit saya sejak tingkat 1 saya kuliah di STAN. Pertama kali ke sana karena diajak salah seorang teman. Ternyata rasanya sangat enak dan murah meriah, hanya 5000 rupiah.Apalagi kalau dimakan tengah siang.Saya baru tahu kalau es pisang ijo adalah makanan khas dari daerah Makassar, Sulawesi Selatan.Padahal saya sempat mengira kalau makanan itu berasal dari Aceh karena di warungnya ada tulisan “Banda Naira”. Haha…

Pada pagi hari itu saya jalan ke sana untuk membeli es pisang ijo. Sudah lama saya tidak ke sana, untung tidak banyak yang berubah. Pedagangnya masih tetap sangar seperti yang saya lihat sejak tingkat 1 dulu dengan warung yang sederhana, lokasinya masih tetap sama, dan yang terpenting rasa es pisang ijo masih tetap nikmat seperti yang dulu. Hanya harganya yang berubah jadi 6000 rupiah.

Saya sengaja memesan es pisang ijo untuk dibawa pulang ke kosan karena saya ingin menikmatinya sambil internetan seperti biasa.Dulu saya memang jarang makan es pisang ijo di warung karena tidak bisa santai dan berlama-lama.Ternyata saya lupa kalau barang-barang termasuk mangkok plasik sudah dikirim ke rumah.Untung masih ada piring yang tersisa dan sendok plastik bekas bubur ayam.

Siang harinya saya hanya nonton tv dan tiduran di kosan sambil berpikir mau ke mana sore nanti. Akhirnya saya menemukan ide untuk pergi ke kosan teman sekelas saya si Zaki di daerah PJMI, sekitar 600 meter dari kosan sekalian mengembalikan kabel printer yang sempat saya pinjam untuk mengeprint laporan PKL saya dulu sewaktu puasa.

Setelah mengirim pesan kalau saya akan ke sana setelah Maghrib, saya segera mandi sore harinya. Setelah salat Maghrib akhirnya saya segera bergegas ke kosan teman saya tadi. Sesampainya di sana ternyata kamar kosannya sudah banyak berubah. Kalau biasanya dia hanya sendirian di kamar, waktu itu kamarnya sudah ada 2 kasur yang menandakan kalau sekarang kamarnya diisi 2 orang.Sementara itu barang-barang pribadinya sudah banyak yang dimasukkan ke dalam kardus meskipun belum dikirim pulang. Di sana, saya hanya mampir sebentar saja sekitar 20 menit, yang penting kabel printer sudah saya kembalikan. Pulang dari kosan si Zaki, saya iseng-iseng mampir ke pasar malam di daerah Kalimongso, tidak jauh dari PJMI tadi.Niatnya cuma mau mampir beli makan malam di warung nasi goreng langganan saya, “warung nasi goreng 12”.Sudah setahun ini saya kalau makan nasi goreng di warung itu.Meskipun jauh dari kosan, tapi rasa nasi gorengnya sangat mantap.Tidak sia-sia jauh-jauh ke tempat itu.Jelas jauh lebih enak daripada nasi goreng langganan saya waktu tingkat 1 dulu di Jalan Pasir, dekat kosan.

Pulang dari “warung nasi goreng 12”, saya tergoda untuk mampir beli getuk di pasar kaget Kalimongso.Harganya cukup murah, hanya seribu rupiah.Akhirnya saya beli 2 biji.Selama perjalanan pulang ke kosan, tiba-tiba saya teringat perbincangan saya dengan ibu via telepon beberapa hari yang lalu tentang buku alumni.Yap, saat itu saya sengaja tidak beli buku alumni lulusan 2012 karena harganya yang mahal.Selain itu, banyak teman juga yang tidak beli.Setelah bicara dengan ibu tentang saya yang tidak beli buku alumni, saya malah dimarahi.Katanya, buku kenangan itu penting buat kenang-kenangan kalau nanti sudah kerja. Haha…. Akhirnya saya dengan terpaksa berusaha beli buku alumni yang tersisa di koperasi.Ternyata sampai di koperasi, buku alumni sudah habis.Sempat saya coba hubungi teman sekelas yang mengurusi buku alumni tapi ternyata stoknya sudah habis.Sedikit nyesel tapi Alhamdulillah. Hehe…

Sesampainya di kosan, sekitar jam 20.30, seperti biasa saya langsung menyalakan TV, nonton acara favorit, OVJ sambil makan nasi goreng yang tadi sudah dibeli. Setelah selesai makan, saya berinisiatif memeriksa kembali barang-barang yang akan saya bawa esok hari ke Bogor, terutama perlengkapan wisuda.
Perlengkapan wisuda termasuk undangan sengaja saya taruh di tas plastik besar pemberian panwis saat pengambilan toga beberapa hari sebelumnya. Baju, kemeja, dan barang-barang pribadi lain yang sudah masuk ke tas ransel hitam saya. Total barang bawaan yang saya bawa ke Bogor hanya tas plastik dan ransel. Semuanya sudah siap. Sebelum tidur, saya searching rute kereta yang akan saya naiki besok dari Bintaro ke Bogor. Ternyata transportasi dari Bintaro ke Bogor cukup mudah, hanya 2 kali naik KRL. Sekitar jam 22.00 akhirnya saya bisa tidur juga di malam terakhir saya di sana. Tak terasa memang sudah 3 tahun.

#gambar menyusul gan, upload di warnet luamaaaaa. -__-
Read more