Sebelum TKD, ketika masih bulan puasa, kami diharuskan untuk
melakukan pendaftaran online melalui web Kementerian Keuangan untuk memilih
lokasi ujian sekaligus memilih 3 dari 10 instansi eselon I Kemenkeu yang
menjadi tujuannya kelak. Saat itu, saya sempat bingung akan memilih instansi
apa yang cocok buat saya. Sempat berdiskusi dengan ibu, beliau hanya meminta
agar saya tidak memilih instansi pajak (Direktorat Jenderal Pajak) dan bea
cukai (Direktorat Jenderal Bea Cukai). Tidak terlalu jelas mengapa ibu melarang
saya untuk memilih kedua instansi tersebut. Mungkin karena selama ini ibu yang
selalu mengikuti berita melalui koran dan TV sering mendapat
informasi-informasi negatif tentang kedua instansi tadi. Saya memilih untuk
mengikuti nasehat ibu karena biasanya saran ibu selalu tepat. Hehe…
Yasudah berarti saya harus mencoret 2 instansi yang akan
saya ambil. Pilihan saya tinggal 8 instansi yang bisa dipilih. Sempat terbersit
untuk meminta saran seorang saudara jauh (paman) yang juga bekerja di
lingkungan Kemenkeu (Bapepam LK) yang saat ini sedang kuliah S3 di Australia
tapi niat tersebut saya batalkan karena saya harus segera melakukan pendaftaran
online yang katanya nomor ujian tergantung cepat lambatnya kita melakukan
pendaftaran. Saya yang saat itu sedang bersih-bersih rumah pun buru-buru mandi
lalu mengeluarkan sepeda di garasi untuk segera meluncur ke warnet. Sebelum
meninggalkan rumah, ibu hanya berpesan untuk memilih dengan hati, jangan
buru-buru. Semuanya dipercayakan kepada saya karena saya sendiri yang dapat
mengukur kemampuan diri sendiri. Di perjalanan masih bingung juga akan memilih
instansi apa. Sesampainya di warnet, saya langsung buka web Kemenkeu. Setelah
mengisi formulir data diri dan memilih lokasi ujian, akhirnya tiba juga pada
bagian terakhir yaitu pemilihan 3 instansi eselon I Kemenkeu.
Dengan hanya bermodalkan nasehat ibu, saya beranikan untuk
membuat keputusan yang cukup sulit ini. Bagi saya, pemilihan instansi ini akan
sangat menentukan nasib saya ke depannya baik dari segi karir, pendidikan,
lingkungan kerja, penempatan daerah, bahkan jodoh (yaelah bro -___-). Saya
berusaha untuk tidak panik dan berpikir
sejernih mungkin. Yang saya lakukan adalah melakukan flashback saat
kuliah tingkat 1 dulu. Saat itu saya sempat terobsesi dengan salah satu
instansi eselon I Kemenkeu yaitu Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Menurut saya,
BKF itu keren karena BKF adalah pusat kebijakan fiskal yang dibuat oleh
Kemenkeu. Jika Kemenkeu diibaratkan badan manusia,maka BKF itu adalah otaknya. Saya pun memutuskan
untuk menempatkan BKF ini di pilihan pertama. Hal yang menguatkan saya adalah
BKF berlokasi di pusat, tidak akan ditempatkan di daerah-daerah yang selama ini
menjadi ketakutan tersendiri bari mahasiswa STAN. Selain itu, untuk mendapatkan
beasiswa, BKF ini peluangnya sangat sangat besar. Makin mantap menempatkan BKF
di urutan pertama.
Untuk pilihan kedua dan ketiga saya masih belum tahu harus
memilih apa. Saya pun sempat terbersit pemikiran untuk memilih instansi yang
sesuai keahlian saya di bidang penganggaran dan perbendaharaan. Pilihannya
tidak lain dan tidak bukan adalah Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) dan
Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB). Dua direktorat ini sebenarnya
seperti saudara kembar. Yap… kedua instansi itu pada
hakekatnya hampir sama, hanya saja DJA bermain di urusan perencanaan, sedangkan
DJPB lebih mengurusi pelaksanaan anggarannya. Satu hal yang membuatnya terasa
sangat beda adalah DJA kantornya hanya ada di pusat, sedangkan DJPB selain di
pusat, banyak juga kantor perbendaharaan (KPPN) yang ada di daerah di seluruh
pelosok Indonesia (total ada 177 KPPN yang tersebar di 33 propinsi). Hal inilah
yang menjadi momok besar buat alumnus STAN terutama spesialisasi Kebendaharaan
Negara seperti saya. Sebagai loyalis KBN, tentu saya tidak bisa berpaling dari
DJPB. #tsaaah
Oleh karena itu, saya
harus memasukkannya ke dalam salah satu pilihan saya dengan segala resiko yang
harus siap ditanggung. Sebenarnya tidak ada larangan untuk tidak memilih DJPB
tapi entah mengapa saya memang sudah berniat untuk memasukkannya ke dalam salah
satu nominasi penempatan instasi. Padahal direktorat lain yang kantornya hanya
ada di pusat sudah melambai-lambai menggoda untuk saya pilih. -___- Setelah
menimbang-nimbang kedua instansi tadi, akhirnya saya memutuskan untuk
menempatkan DJA di pilihan kedua dan DJPB di pilihan ketiga. Berarti pilihan
saya adalah:
1. BADAN KEBIJAKAN FISKAL (BKF)
2. DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN (DJA)
3. DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN (DJPB)
1. BADAN KEBIJAKAN FISKAL (BKF)
2. DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN (DJA)
3. DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN (DJPB)
Dengan mengucapkan basmallah, akhirnya saya klik “confirm”
yang artinya tidak akan bisa diubah lagi pilihan yang sudah disusun. Tidak lama
setelah itu, muncul kartu BPO saya dengan nomor 000953 dan lokasi ujian di
Yogyakarta.
Kembali ke masalah pengumuman instansi eselon I
Kemenkeu tadi, 5 September adalah hari
di mana instansi kami ditentukan. Sehari sebelum hari keramat itu, saya sengaja
tidur cepat dan berdoa semoga mendapat yang terbaik sambil berharap bisa bangun
pada tengah malam untuk melihat
pengumuman. Benar saja, ketika itu sekitar pukul 02.00 saya terbangun karena
samar-samar saya mendengar ibu saya sedang ngobrol dengan adik tentang pengumuman
penempatan instansi saya. Saya segera bergegas menyalakan laptop dan menyambungkan
modem lalu membuka FB karena biasanya sudah ada link-link khusus tentang
pengumuman penempatan instansi. Dan benar saja, di FB pun reaksi teman-teman
sudah banyak yang heboh setelah melihat penempatan instansi masing-masing.
Kebanyakan bersyukur dan menerima instansi yang sudah dipilihkan oleh Kemenkeu
tapi tidak sedikit pula yang sunyi senyap tanpa berkata-kata. Mungkin itu
bagian dari kekecewaan atau semacamnya karena tidak mendapat instansi sesuai
keinginan atau mungkin karena mendapat instansi DJPB yang sudah terlanjur dicap
sebagai instansi penempatannya jauh-jauh. Entahlah…
Saat itu memang banyak di antara kami, termasuk saya, yang
tidak menginginkan penempatan DJPB karena masalah penempatan daerah yang akan
sangat menyebar. Biarpun saya sebagai salah satu mahasiswa KBN, butuh
pertimbangan khusus untuk memilih instansi DJPB yang akhirnya saya pilih juga
saat mengisi nominasi penempatan instansi. Satu-satunya hal yang meragukan
hanyalah masalah penempatan daerah. Beberapa hari sebelum pengumuman saya
sempat terpikir untuk menghindari penempatan DJPB. Saya juga heran kenapa dulu
meletakkan DJPB di pilihan ketiga. Andai waktu itu saya mengganti DJPB dengan
instansi lain yang hanya ada di pusat mungkin saya tidak akan tegang ketika
membuka pengumuman penempatan instansi. Tapi apa daya, keputusan sudah diambil.
Saya sudah siap menerima resiko apapun.
Saya, didampingi ibu, kemudian membuka link pengumuman
instansi. Setelah selesai mendownload, terbukalah pengumuman dalam format PDF
itu, saya segera klik pada pencarian dengan menuliskan nama “ARYO WICAKSONO”.
Beberapa detik kemudian muncullah nama saya beserta instansi penempatan dan
waktu pemberkasan. Deeegggggg……
Jantung saya berdegup kencang tapi dengan ekspresi yang
sangat datar begitu melihat ada 4 huruf di kolom instansi penempatan.
DJPB!!!!!!!!!!!
Sempat tidak bisa berkata apa-apa dalam beberapa detik.
Suasana yang sebelumnya ramai dengan suara ibu saya yang sudah tidak sabar
membuka pengumuman instansi berubah menjadi hening seketika. Setelah beberapa
detik hening, saya pun hanya mengucapkan dua buah kata ke ibu “DJPB bu.” Dengan
suara lirih dan tatapan mata yang kosong. Ibu hanya berujar “Alhamdulillah le”.
Seketika itu juga saya terbangun dari lamunan karena masih tidak percaya dengan
apa yang saya lihat, kenyataan yang harus saya terima. Entah mengapa begitu
tahu saya mendapat penempatan instansi di DJPB, hal yang pertama kali muncul di
kepala saya adalah peta Indonesia dari Sabang sampai Merauke karena memang
menurut pengalaman kakak-kakak tingkat, penempatan DJPB cenderung “kejam”.
Karena tahu saya sedikit syok, ibu pun meninggalkan saya seorang diri dan
beralih ke dapur supaya saya bisa menenangkan diri.
Entah mengapa saya sempat menyesali keputusan pemilihan
instansi yang sudah disusun sebulan sebelumnya. Kenapa waktu itu saya pilih
DJPB di pilihan ketiga? Kenapa tidak instansi lain saja yang ada di pusat?
Kenapa harus saya yang ditempatkan di DJPB?
Saat itu, mental saya sempat drop dan masih belum bisa
menerima kenyataan ini. Hal yang membuat saya sedikit “kecewa” adalah
saat melihat penempatan teman-teman satu spesialisasi dengan saya. Ternyata
alumnus spesialisasi KBN yang ditempatkan di DJPB “hanya” sekitar 50 orang atau
sekitar seperempat dari jumlah keseluruhan alumnus KBN. Sebagian lainnya
mendapat penempatan di Setjen, DJP, DJPU, DJA, dan lain-lain dengan porsi
terbesar adalah DJP. Hal ini berbeda dengan penempatan tahun-tahun sebelumnya
yang hampir 100% masuk ke DJPB. Bahkan sempat ada selentingan kalau apapun
pilihan kita saat melakukan pendaftaran TKD, ujung-ujungnya “hanya” akan
mendapat penempatan DJPB.
Saya tidak tahu pasti, mereka sengaja menghindari pemilihan
DJPB atau memang sudah memilih DJPB tapi mendapat instansi yang lain. Menurut
kabar burung, memang banyak yang sengaja menghindari DJPB dengan tidak
memasukkannya ke dalam salah satu pilihan instansi penempatan karena takut
mendapat penempatan daerah yang jauh.
Saat itu perasaan saya campur aduk antara senang, sedih,
kecewa, marah. Yang jelas saat itu saya tidak bisa tidur sampai pagi. Yang saya
lakukan hanyalah membuka FB melihat ekspresi teman-teman yang kegirangan
mendapat instansi sesuai keingingan. Saat itu, lagi-lagi saya merasa seperti
pecundang. Tiba-tiba teman saya (sebut saja Joko) curhat lewat chat di FB.
Joko: “Bro…”
Saya: “Halo rekan seperguruan. Haha..”
Joko: “Lu kemaren milih setjen ga?”
Saya: “Enggak. Haha… pilihan ane BKF, DJA, DJPB.”
Joko: “Jangan-jangan yang pada di pusat itu gara-gara emang
sengaja ga milih DJPB.”
Saya: “Iya bro, emang banyak yg ga milih DJPB kok. yaudah
lah gapapa. mungkin rejeki kita di DJPB. Hehe” (padahal ikutan nyesek juga)
Joko: “Susah emang membuang rasa pahit di hati ini.”
(ceilaaah)
Saya: “Aku juga ngerasa agak nyesek sebenernya bro, tapi
udah terlanjur jadi keputusan ga bisa diubah-ubah lagi. hehe.. tenang aja temen
kita banyak kok” (sambil nguatin diri sendiri -___-)
Joko: “Gw ga bermaksud ngerendahin orang ya, tapi liat aja
orang-orang kayak #$@, %&$, $@# malah dapet di pusat. Itu yang bikin nyesek’”
Saya: “Iya ane paham, tapi penentuan instansi ini kayaknya
emang ngacak kok.”
Joko: “Lu masi berharap pengen ditaruh di pusat?”
Saya: “Ya iyalah bro, selama kesempatan masih ada, kita
harus berusaha dapetin apa yang kita mau.”
Joko: “Yoa sip… yaudah gw mau minta diajarin nyuci n
nyeterika sama emak”
Saya: “Wkwkwkwk….siiip bos.”
Percakapan saya dengan Joko tadi mungkin bisa mewakili
perasaan kami yang mendapatkan instansi di DJPB. Perasaan yang benar-benar
membingungkan. Dibilang senang bisa, dibilang sedih juga bisa. DJPB yang selama
ini terlanjur terstigma menjadi instansi yang suram membuat kami langsung
berpikiran yang negatif tentang masa depan kami di sana. Padahal belum tentu
demikian.
Seharian itu dari dini hari jam 2 pagi hingga jam 6 pagi
saya lebih banyak termenung meratapi nasib kenapa harus ditempatkan di DJPB. Untung
teman baik saya memberikan banyak support supaya saya mengikhlaskan hati untuk
menerima penempatan di DJPB. “Semua orang belum tentu dapat nasib sebaik kamu
yang otomatis jadi pegawai Kemenkeu. Lihat di luar sana banyak yang mengantre
untuk sekadar diterima menjadi pegawai Kemenkeu. Kamu yang udah enak ditempatin
harusnya banyak-banyak bersyukur.” begitulah kata-katanya kepada saya. “Jangan
terjebak apa kata orang. Yang sering dibilang negative itu belum tentu
benar-benar negative. Lihatlah sisi positifnya supaya kamu bisa lebih bersyukur.”
lanjutnya.
Saya hanya mengangguk dan mengambil nafas dalam-dalam supaya
bisa lebih tenang. Daripada seharian galau, akhirnya saya memutuskan untuk
mengurus surat sehat dan surat bebas narkoba ke RS Moewardi dengan nebeng adik
yang sekalian berangkat kuliah.

