Minggu, 05 Agustus 2012

Batik Solo Trans Saat Pulang PKL


Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman sewaktu PKL di KPPN Surakarta beberapa waktu yang lalu (11 Juni 2012 s.d. 6 Juni 2012). Eits...jangan salah, yang saya bahas bukan pengalaman kerja di KPPN Surakarta melainkan pengalaman naik sarana transportasi (yang menurut saya) baru di Kota Surakarta yang bernama Batik Solo Trans (BST). Menurut sumber yang saya dapatkan, sebenarnya BST ini sudah ada sejak tahun 2010. Soft launching-nya sendiri dilakukan saat H-10 Lebaran 2010. BST ini konsepnya hampir sama dengan bus transjakarta yang ada di ibu kota.

 

Yap, saya katakan hampir sama karena BST ini punya beberapa perbedaan dengan transjakarta, antara lain ukuran busnya yang jauh lebih kecil, haltenya juga lebih kecil, dan tidak dibutuhkannya jalur khusus (busway) sebagai sarana melintasnya bus ini. 
Jika dilihat dari ukuran dan jalurnya, BST ini lebih mirip dengan transjogja yang ada di Provinsi Yogyakarta. Hal yang menjadi pembeda hanyalah warna cat bus dan konsepnya saja. Jika transjogja berwarna kombinasi hijau dan kuning, BST didominasi warna biru. Selain itu, BST lebih terkonsep dengan ditonjolkannya motif batik pada sebagian badan bus. Bus yang dioperasikan oleh Perum Damri ini sekarang menjadi primadona baru sarana transportasi umum bagi masyarakat Kota Solo karena sangat nyaman dan jauh dari kesan ugal-ugalan seperti bus umum lain. Bus ini mulai beroperasi sejak pagi hari sekitar pukul 05.30 hingga sore hari sekitar pukul 19.00. Sebagai sarana transportasi umum, BST tidak hanya melayani penumpang dalam wilayah Kota Solo saja tetapi juga melayani penumpang hingga ke luar kota seperti Kartasura dan Karanganyar (Palur). Bahkan, BST juga mempunyai jalur hingga ke Bandara Adi Soemarmo untuk memudahkan wisatawan untuk keliling Kota Solo.

Dari segi interior, BST ini sangatlah nyaman jika dibandingkan dengan bus umum lain. Selain ada pendingin ruangan/AC, tempat duduk penumpang pun diatur sedemikian rupa dengan mengutamakan kenyamanan bagi para penumpang. Penumpang BST ini didominasi oleh pegawai dan mahasiswa yang pulang/pergi dari tempat kerja/kampusnya masing-masing, juga ada masyarakat umum yang menggunakan BST untuk sekadar keliling Kota Solo ataupun berwisata belanja di mal-mal yang dilalui BST. Petugas BST sendiri hanyalah terdiri dari 2 orang yaitu supir dan kondektur. Yang menjadi pembeda dengan bus lain, kondektur BST ini adalah seorang wanita muda. Pengguna jasa BST ini kebanyakan wanita, mungkin karena mereka merasa lebih aman dan nyaman jika bepergian menggunakan BST dibandingkan dengan bus umum lain. Penumpang BST ini seakan tidak pernah sepi karena memang  bus ini melintasi pusat keramaian yang ada di Kota Solo seperti Solo Grand Mall, Solo Square, berbagai macam bank dan kantor pemerintah, rumah sakit, serta kampus. Untuk sekali jalan, tiap penumpang dikenai tarif yang sama yaitu 3000 rupiah, kecuali untuk pelajar yang hanya 1500 rupiah. Dengan tarif yang murah dan tidak berbeda jauh dengan tarif bus umum lain, BST mampu bersaing dengan makin banyaknya bus dan angkutan umum yang melintasi Kota Solo.



Selain menyediakan puluhan unit bus BST, pemerintah kota Solo juga membuat beberapa halte untuk menunjang jalannya sarana transportasi ini. Tiap halte dibuat sangat minimalis dengan memanfaatkan taman kota yang ada di pinggir jalan yang tentunya juga menonjolkan unsur kebudayaan Wong Solo yang ditandai dengan penggunaan atap halte yang menyerupai atap rumah tradisional Jawa Tengah. Semua halte BST dibuat seragam dengan ciri khas cat berwarna merah. Jarak tempuh BST yang bisa dibilang sangat jauh yaitu dari Terminal Kartasura ke Terminal Palur atau sebaliknya tentu memakan waktu yang sangat lama. Saya sendiri pulang dari KPPN Surakarta ke Palur menggunakan BST membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Padahal kalau menggunakan sepeda motor hanya memakan waktu tidak lebih dari 20 menit.

Salah satu hal yang menjadi kenangan adalah beberapa kali saat saya PKL di KPPN Surakarta pulang menggunakan BST. Selama PKL di KPPN Surakarta, bisa dibilang saya lebih sering pulang dijemput adik daripada naik BST. Pulang dengan BST bisa dihitung dengan jari, yaitu sekitar 5 sampai 6 kali saja dalam sebulan. Saya naik BST hanya untuk pulang ke rumah, tidak untuk berangkat kerja ke kantor karena takut lama perjalanannya tidak sesuai dengan perhitungan. Kalau biasanya saya berangkat dari rumah pukul 06.30 diantar adik pasti kurang lebih pukul 07.00 sudah sampai kantor. Akan tetapi, naik BST pukul 06.30 belum pasti setengah jam juga sampai ke kantor padahal pukul 07.30 harus sudah masuk kantor.

Biasanya, selesai jam kerja yaitu sekitar pukul 17.00 saya langsung beres-beres tas dan buku yang ada di perpustakaan kantor. Setelah semuanya selesai, saya langsung keluar kantor lewat parkiran pegawai yang ada di samping toilet. Sementara itu, pegawai dan teman-teman kebanyakan sudah bersiap dengan motornya masing-masing untuk pulang, sedangkan beberapa ibu-ibu menunggu dengan setia jemputan suaminya dengan duduk-duduk di depan kantor. Apabila hari itu bukan hari Selasa atau Jumat , saya selalu memakai jaket terlebih dahulu sebelum keluar kantor. Maklum, jika tidak ditutup jaket, seragam putih-hitam saya terlihat seperti seragam office boy Solo Square. Lain ceritanya kalau hari Selasa atau Jumat saat memakai seragam batik. haha....

Untuk menuju halte, kebetulan di seberang jalan kantor ada halte BST. Biasanya saya menyeberang terlebih dahulu lewat jembatan penyeberangan persis seperti yang ada di gambar di atas. Setelah sampai di halte, saya duduk-duduk sejenak sambil menunggu datangnya bus. Biasanya tidak lebih dari 10 menit bus datang. Suasana di dalam bus sangat berbeda dengan di halte yang panas tadi. Dengan adanya AC yang berfungsi dengan baik, saya dapat menikmati perjalanan dari kantor ke Terminal Palur. Perjalanan yang memakan waktu 30 menit tadi melewati beberapa halte yang berada di tempat-tempat keramaian. Dengan hanya membayar 3000 rupiah, saya rasa sangat murah untuk mendapat pelayanan seperti ini. 

Pernah suatu ketika pulang naik BST kebetulan bertemu dengan salah satu ibu-ibu pegawai KPPN Surakarta. Beliau kebetulan mengenali saya sebagai mahasiswa PKL di kantornya sehingga beliau yang berbaik hati membayar karcis BST untuk saya. Sepanjang perjalanan, kami ngobrol basa-basi tentang berbagai hal. Ternyata rumah beliau juga masih sekomplek dengan saya, tepatnya di Perumahan RC. Suatu ketika beliau bercerita tentang anak-anaknya yang telah sukses mendapat pekerjaan di PLN Indramayu dan salah satu BUMN di bidang pertambangan di Palembang. Rupanya beliau hanya tinggal berdua di rumah bersama suaminya yang juga salah seorang guru di SMAN 1 Surakarta. Setelah beberapa saat ngobrol, akhirnya saya sampai juga di Terminal Palur. Karena sudah malam, saya dan ibu tadi memilih turun di samping Palur Plaza yang sedikit lebih ramai. Ternyata ibu tadi sudah dijemput oleh suaminya di sebelah toko buku Sri Agung, sedangkan saya sendiri menunggu dijemput adik selama beberapa menit.



Read more

Rabu, 01 Agustus 2012

Dosen Semester 5

Nama          : Ibu Rini Adiati Ekoputranti
Mata kuliah: Bahasa Indonesia

Beliau adalah dosen terbaik STAN di bidangnya yang juga merupakan pegawai di Pusat Bahasa. Sangat concern terhadap perkembangan tata bahasa di Indonesia terutama penggunaan kata baku sesuai tata bahasa yang baik dan benar. Saya pernah melihat beliau menjadi narasumber di salah satu acara di TVRI. Saat mengajar, beliau sangat sabar tapi terkadang sedikit membosankan sehingga kadang membuat ngantuk. hehehe...

Salah satu pelajaran yang paling saya ingat adalah pengunaan awalan "pe-". Beliau pernah memberikan pertanyaan: Yang benar "pecinta alam" atau "pencinta alam"? Seketika itu juga, teman-teman menyebut "pecinta alam". Padahal menurut belaiau, penggunaan awalan "pe-" yang benar adalah "pencinta alam" karena "pecinta" berarti orang yang "ber-"cinta dengan alam, sedangkan "pencinta" berarti orang yang "men-"cintai alam. Setelah memberikan jawaban itu, salah satu teman saya yang tadinya tertidur pulas tiba-tiba terbangun dan tertawa heboh karena penjelasan dari bu dosen.

Nama          : Bapak M Zahari Hasan
Mata Kuliah: Etika Profesi

Kalau boleh jujur, beliau ini adalah salah satu dosen yang paling ditakuti di kelas kami. Selama kuliah di sini, belum pernah saya menemui dosen seperti Pak Zahari. Beliau ini orangnya tegas, sangat disiplin, dan sedikit perfeksionis. Hanya di mata kuliah ini, semua mahasiswa memakai KTM-nya karena memang beliau menghendaki semua mahasiswa harus memakai tanda pengenal selama proses perkuliahan. 

Yang saya ingat, jadwal kuliah beliau adalah hari Jumat pukul 08.00. Beliau selalu memanggil mahasiswa untuk mengecek kehadirannya, tidak seperti dosen lain yang mempercayakan presensi mahasiswa kepada ketua kelas. Apabila ada mahasiswa yang datang terlambat, beliau pasti langsung menegur dan tak jarang memarahi mahasiswa tersebut jika terlambatnya sudah berulang-ulang. 

Saat ujian pun beliau membuat peraturan yang agak nyeleneh. Kertas ujian tidak boleh kotor, tidak boleh ada coretan, dan jawaban yang dituliskan harus panjang lebar. Pada akhirnya nilai ujian kami sekelas tidaklah memuaskan karena nilai dari mata kuliah ini memang tidak akan pernah maksimal sebagus apapun mengerjakannya. hehehe.....

Nama          : Bapak Heru Cahyono
Mata Kuliah: Evaluasi Proyek

Beliau ini adalah salah satu dosen yang sering terlambat datang saat mengajar. Meskipun cuma mengajar 2 SKS, pelajaran yang diberikan terkesan sangat lama karena sedikit membosankan. Beliau juga pernah menyinggung tentang tidak adanya komunikasi yang baik saat perkuliahan di kelas kami. Pada akhirnya, kami mampu melewati mata kuliah yang paling menyulitkan di semester 5 dengan cukup baik meskipun sambil "berdarah-darah"

Nama           : Bapak Herry Triatmoko
Mata Kuliah: Pengadaan Barang Jasa

Beliau adalah salah satu dosen terbaik di semester 5. Meskipun sering ada acara keluar kota yang mengakibatkan jadwal kuliah berubah, saya rasa beliau cukup bertanggung jawab atas kesuksesan mahasiswanya dalam memahami mata kuliah ini. Pengadaan Barang Jasa (PBJ) merupakan mata kuliah yang paling ribet di semester 5 karena selain diharuskan memahami 10 bab materi pengadaan barang jasa, kami juga diwajibkan mengikuti sertifikasi PBJ yang diadakan oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah (LKPP) pada akhir semester genap. 

Bagi saya sendiri, beliau bukan orang baru karena sudah pernah mengajar saya dulu waktu semester 3 mata kuliah perimbangan keuangan. Karakternya yang sedikit perfeksionis dan susah memberi nilai bagus di semester 4 sepertinya tidak begitu terlihat di semester 5 karena di awal semester 5 tersebut beliau sudah membuat ketentuan bagi siapa saja yang lulus sertifikasi PBJ, nilai UAS langsung mendapat A. Tentu hal ini menjadi motivasi sendiri buat mahasiswa untuk belajar supaya lulus sertifikasi sekaligus mendapat nilai UAS A (itung-itung buat menutupi nilai mata kuliah etika profesi yang hampir pasti dipukul rata bawah).

Akhirnya setelah sekian lama bergelut dengan pengadaan barang jasa, tes sertifikasi benar-benar dilaksanakan. Dengan segala kemampuan yang dikerahkan, alhamdulillah lebih dari 70% mahasiswa  kebendaharaan negara (termasuk penulis) lulus ujian sertifikasi ini. Akan tetapi, yang masih menjadi pertanyaan bagi saya adalah apa benar mahasiswa yang lulus sertifikasi dapat nilai A karena Pak Herry menjanjikan nilai A bagi mahasiswa yang lulus jika hasil sertifikasi keluar sebelum penyerahan nilai ke sekretariat. Padahal pengumuman dari LKPP dilakukan hanya beberapa hari setelah batas maksimal penyerahan nilai ke sekretariat. Tapi, tak terlalu jadi masalah, yang penting kami semua mendapat IP yang cukup baik di semester 5.

Nama          : Bapak Hery Waloeyo 
Mata Kuliah: Pengelolaan BMN

Sebagai dosen senior di STAN, tentu beliau punya banyak pengalaman mengajar. Selain mengajar mahasiswa STAN, beliau juga sering diundang untuk menjadi narasumber di berbagai acara yang diadakan oleh instansi pemerintah terutama yang berkaitan dengan pengelolaan Barang Milik Negara (BMN). Beliau ini juga merupakan salah satu dosen yang paling disiplin saat perkuliahan. Jarang sekali terlambat, mengajarnya pun 3 SKS full hampir tepat 3x45 menit.

Untuk cara mengajarnya sendiri, menurut saya sedikit membosankan karena hanya terpaku pada slide-slide yang telah dibuat oleh beliau. Jadi, suasana perkuliahan menjadi kurang hidup dan mengakibatkan mahasiswa bosan yang kemudian mengantuk. Kata-kata yang selalu saya ingat ketika beliau mengajar adalah "Apakah ada pertanyaan?" yang selalu diulang-ulang. Begitu beliau mengucapkan kalimat itu, seperti tak ada respon dari kami dan akhirnya beliau melanjutkan materi sampai jam perkuliahan selesai.

Salah satu hal yang berkesan bagi saya dari beliau adalah kebaikan beliau memberikan voucher makan sebesar 10.000 rupiah bagi kami di warung makan beliau yang baru berdiri, tepatnya di kantin plasa mahasiswa. Beliau melakukan ini sebagai cara promosi warung makannya. Selama promo tadi warung makan beliau memang ramai dikunjungi mahasiswa untuk menukarkan voucher makan. Akan tetapi, beberapa hari kemudian kembali sepi karena jarang ada yang makan di sana, terkendala harga yang cukup mahal bagi kantong mahasiswa. Tapi apapun itu, teima kasih pak traktirannya. hehe...

Read more

The Unforgetable Saturday



Lama sekali rasanya saya tidak lagi menulis di blog ini. Kalo boleh jujur, inilah salah satu kelemahan saya, yap...konsistensi. Sepertinya masih belum bisa konsisten bung. haha.........

Hari ini, Minggu, tepat berada di awal bulan April. Kegiatan saya di kosan seharian ini (sampai pukul 16.45) masih sama seperti hari-hari biasanya di kosan. Malam minggu kemarin semalaman nonton pertandingan liga inggris aston villa vs chelsea di TV dari jam 9 malam hingga tertidur di tengah-tengah acara uji nyali (masih) dunia lain trans 7. Terbangun sekitar jam 6 pagi langsung salat subuh. Setelah gosok gigi dan cuci muka, pukul setengah 8 pagi (seperti biasa) saya beli sarapan bubur ayam di belakang kosan, tepatnya di dekat taman ponjay. Sampai di kosan, makan sambil nonton TV.

Beberapa saat kemudian saya putuskan untuk mengerjakan sesuatu yang sering saya tunda yaitu bersih-bersih kosan. Saya sendiri sudah membuat ketetapan, minimal tiap hari Minggu harus bersih-bersih kamar mulai dari menyapu, mengepel, merapikan tempat tidur, dll. Setelah semuanya beres, saya malah bingung mau melakukan apa lagi. Pengen nonton FESBUDNUS tapi tiketnya kemahalan (15 ribu, padahal taun kemarin 2 ribu), dan akhirnya tidak jadi berangkat (dan untungnya tidak ada yang mengajak saya ke sana). Alhamdulillah sore hari ini mendung, tak lama kemudian turun hujan deras. Lumayan lah mendinginkan suasana yang sedang panas. Hehe...

Di kosan, begitu weekend saya hampir selalu teringat kegiatan rutin saya sewaktu masih di rumah. Seakan-akan ingatan saya kembali ke masa-masa SMA, tepatnya kelas 3 SMA saat sibuk-sibuknya kegiatan akademis. Jika diceritakan secara lengkap akan sangat panjang dan saya pun tidak yakin bisa mengingat semua kegiatan dengan baik.

Okee...mari coba saya ingat lagi.

SABTU

  • 05.00-05.45         bangun pagi, salat subuh, mandi, sarapan
  • 05.45-06.00         berangkat ke sekolah
  • 06.00-06.15         sampai di sekolah
  • 07.00-09.15         pelajaran sesi 1 (3 SKS)
  • 09.15-09.30         istirahat
  • 09.30-11.45         pelajaran sesi 2 (3 SKS)
  • 11.45-12.00         istirahat
  • 12.00-13.30         pelajaran sesi 3 (2 SKS)
  • 13.30-14.00         pulang sekolah, menuju ke tempat les PRIMAGAMA depan UNS
  • 14.00-14.30         sampai di PRIMAGAMA, salat duhur, cuci muka
  • 14.30-16.00         belajar (les)
  • 16.00-16.30         les selesai, pulang ke rumah, sampai di rumah
  • 16.30-17.30         salat ashar, makan, nonton liga indonesia, santai-santai sama keluarga
  • 17.30-18.30         mandi, salat maghrib, kumpul keluarga di ruang tengah, nonton TV
  • 18.30-21.00         nonton liga inggris, makan malam, ngobrol sama ibu n adek
  • 21.00-23.00         main PS sendirian di kamar belakang, adek malam mingguan, ibu tidur
  • 23.00-xx.xx          tidur di ruang tengah

Sewaktu SMA, hidup saya bisa dibilang sangat teratur. Bangun pagi hampir selalu jam 5, setelah itu salat subuh, mandi, dan sarapan. Kadangkala bangunin adek yang pukul 05.30 seringkali belum bangun tidur. Berangkat sekolah pagi-pagi sekitar pukul 06.00 untuk menghindari jalanan yang makin ramai dan berbahaya. Sementara itu, adek saya berangkat sendiri dengan motor mio-nya (mungkin) sekitar pukul 06.15. Perjalanan dari rumah ke sekolah hanya memakan waktu paling lama 15 menit. Karena masih pagi dan jalanan masi lengang, seringkali saya sengaja kendarai motor saya dengan kecepatan minimum sambil menikmati segarnya udara pagi kota Solo.

Jalur yang saya pilih ke sekolah pun selalu sama yaitu lewat palur-jembatan bengawan solo-sekarpace-jebres-panggung-ringin semar-proliman ngemplak belok kanan-lewat jembatan ngemplak-SMA 5-parkiran selatan kelas 3. 

Sampai di sekolah sekitar pukul 06.15 dan biasanya masih sepi, paling-paling hanya ada beberapa motor saja yang sudah terparkir. Bahkan tidak jarang, motor saya jadi penghuni pertama di parkiran itu. Padahal menurut beberapa cerita yang saya dengar, parkiran motor bagian selatan yang khusus untuk kelas 3 lumayan menyeramkan. Hmmm.....memang kadang bulu kuduk berdiri kalau pagi-pagi sendirian di tempat itu. Oh iya, tempat parkir favorit saya yaitu parkiran bagian tengah yang menghadap ke deretan kelas 3 (menghadap utara) dan dekat tiang penyangga atap parkiran supaya dapat ruang yang lebih luas. Hehe..

Sesampainya di kelas pun masih sepi. Belum banyak orang yang datang. Baru sekitar pukul 06.45 teman-teman mulai berdatangan dan kelas pun berubah menjadi ramai. Bel masuk sekolah berbunyi sekitar pukul 07.00. Nah, sambil mengisi waktu luang sebelum guru masuk ke kelas, kebiasaan yang kami lakukan adalah ngobrol segala macam hal mulai dari pelajaran, pertandingan sepak bola semalam, bahkan juga perkembangan film naruto yang kala itu masih sangat populer. 

Menurut saya pribadi, hari Sabtu adalah hari masuk sekolah yang paling menyenangkan dibandingkan 5 hari lainnya karena mata pelajarannya yang tidak terlalu berat dan terkesan santai. Sabtu pagi dibuka dengan mata pelajaran matematika yang disampaikan oleh Bapak Yusmar S Budi (sekarang kepala sekolah SMA N 6). Mata pelajaran ini bisa dibilang mata pelajaran paling menyebalkan di hari Sabtu karena cara mengajarnya yang kurang menarik, terlalu serius, dan terkadang suka memarahi siswa yang tidak memperhatikan atau tidak bisa mengerjakan soal di papan tulis.  hehe...

Setelah 2 SKS mata pelajaran matematika, pelajaran berikutnya (kalo tidak salah) matematika lagi tapi dengan guru yang berbeda, yaitu sang ibu wali kelas, Ibu Sri Rahayu (Bu Yayuk). Berbeda 180 derajat dengan Pak Yusmar, pelajaran matematika yang diberikan Bu Yayuk jauh lebih menarik karena beliau penyabar dan pengertian terhadap siswanya. Terkadang malah mata pelajaran matematika yang seharusnya disampaikan malah diganti dengan acara konsultasi antara siswa yang sedang galau ujian nasional dengan wali kelasnya. Sayangnya mata pelajaran ini di hari Sabtu hanya 1 SKS menjelang istirahat.

Waktu SMA dulu istirahat pukul 09.15 setelah pelajaran 3 SKS sesi pertama. Kebiasaan saya saat istirahat pertama ini paling-paling cuma ke toilet, ngobrol dengan teman-teman di depan kelas, atau terkadang ke kantin beli cemilan. Karena waktu istirahat hanya 15 menit, kami tidak bisa berlama-lama santai. Pukul 09.30 tepat bel berbunyi tanda masuk pelajaran lagi. Pelajaran hari Sabtu setelah istirahat pertama adalah bahasa inggris 2 SKS kemudian dilanjutkan dengan bimbingan konseling 1 SKS. Kami sangat menikmati pelajaran setelah istirahat pertama karena sangat santai dan menyenangkan. Ibu guru bahasa inggris kami waktu itu sangatlah sabar dalam memberikan materi pelajaran. Cara memberikan penjelasan pun juga sangat bagus. Untuk mata pelajaran bimbingan konseling isinya cuma konsultasi-konsultasi tentang keluhan selama sekolah, masalah mendapatkan universitas yang sesuai, dan lain-lain.

Begitu mata pelajaran selesai, bel pun berbunyi 2 kali tanda istirahat kedua. Pada saat inilah saya sering pergi ke kantin membeli minuman. Minuman favorit saya adalah es coffee mix. Nikmat sekali menengguk segelas es kopi di tengah cuaca yang panas sekaligus menghilangkan rasa kantuk sebelum menghadapi mata pelajaran Bahasa Indonesia setalah istirahat kedua usai.

Setelah 15 menit istirahat kedua, kami masuk kelas lagi untuk menjalani pelajaran sesi terakhir yaitu bahasa indonesia (2 SKS) yang disampaikan oleh Bapak Sudarto. Beliau ini tergolong salah satu guru paling senior di SMA N 5. Meskipun sudah berumur, semangatnya masih terlihat muda. Salah satu yang paling diingat dari beliau adalah kebiasaan beliau yang selalu menyampaikan pelajaran tentang sastra. Hal yang sering diulang terutama masalah puisi, pantun, dan sejenisnya. Beliau juga terkadang memberikan joke-joke yang membuat kami "bangun dari tidur". Maklum, pelajaran terakhir biasanya sudah capek dan konsentrasi beralih ke jam dinding di depan kelas, menunggu jarum jam menunjukan pukul 13.30. Hehehe...

Tett...tett....tetttt....
3 kali bunyi bel pertanda pulang. Teman-teman yang tadinya terkantuk-kantuk di belakang, seketika membereskan tasnya sambil menguap. Seketika iu juga, kami langsung keluar dari kelas dengan wajah ceria karena Sabtu merupakan hari terbaik bagi kami. Mungkin di benak teman-teman, mereka bisa melepas penat setelah seminggu berkecimpung dengan kegiatan sekolah yang membosankan. Yah, sabtu malam dan hari minggu memang saat yang pas untuk bersantai. Kegiatan setelah pulang sekolah yang dilakukan oleh teman-teman sekelas sangat beragam. Ada yang nongkrong dulu di warung burjo depan sekolah, pergi ke  masjid sekolah untuk menunaikan salat dan membicarakan hal-hal keagamaan, langsung pulang ke rumah, atau pergi les seperti yang saya lakukan. Konsekuensi sebagai siswa kelas 3 (menurut saya) adalah mempersiapkan ujian nasional sebaik mungkin. Oleh karena itu, dari awal tahun ajaran baru, saya memang sudah merencanakan ikut les supaya waktu-waktu luang saya tidak terbuang percuma.

Setelah bel tanda pulang sekolah berbunyi, biasanya saya langsung bergegas ke parkiran untuk mengambil motor dan memacunya ke arah sekarpace, tepatnya tempat bimbel Primagama yang ada di depan kampus UNS. Perjalanan dari sekolah ke tempat bimbel biasanya memakan waktu sekitar 15 menit. Maklum, sambil menikmati perjalanan (hehehe....). Setelah memarkirkan motor di depan tempat bimbel, saya langsung bergegas menuju ke kamar mandi untuk cuci muka dan mengambil wudhu untuk salah duhur. Setelah selesai salat, sekitar pukul 14.15, saya naik ke lantai 2 menuju ke ruangan tempat bimbel kelas 3 SMA. Peserta bimbel di sana merupakan siswa-siswa dari berbagai SMA di Solo dan sekitarnya. Pukul 14.30 tepat, bimbel pun dimulai. Mata pelajaran yang diajarkan tidak jauh-jauh dari mata pelajaran ujian nasional seperti Kimia, Fisika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, dll. Terkadang bosan juga mengikuti bimbel seperti ini, apalagi kalau pengajarnya kurang komunikatif.

Selesai bimbel sekitar pukul 16.15, saya langsung turun ke lantai 1 untuk mengambil motor lalu pulang sambil menahan rasa lapar karena siang tadi memang belum makan. Perjalanan pulang ke rumah tidak memakan waktu yag lama, cukup 10 menit. Suasanya perjalanan pulang ke rumah selalu saya rindukan karena pada jam-jam itu jalanan cukup ramai oleh pekerja-pekerja pabrik yang juga selesai melaksanakan kewajibannya mencari nafkah untuk keluarga dan juga pada jam-jam tersebut sinar matahari sangat indah menyinari sepanjang perjalanan di perbatasan solo-karanganyar. Tidak butuh waktu lama, akhirnya saya sampai juga di rumah. Setibanya di rumah sekitar pukul 16.30, saya langsung mengambil wudhu untuk salat ashar. Setelah selesai salat, ibu mengambilkan makan yang telah dimasaknya pagi tadi. Masakan ibu memang paling nikmat. Kebiasaan saya adalah makan sambil nonton pertandingan liga indonesia. Setelah selesai makan, saya istirahat sejenak hingga pukul 18.00 mandi.

Kegiatan malam minggu selalu di rumah. Berbeda dengan adik saya yang biasanya main ke luar bersama teman-teman entah itu nge-band, main kartu, atau hal-hal lain. Sementara itu, kegiatan malam minggu selalu saya isi dengan menonton pertandingan sepakbola baik liga indonesia maupun liga inggris. Pukul 20.00 biasanya ibu sudah tidur di kamarnya. Saya masih setia nonton pertandingan bola sampai pertandingan terakhir pukul 23.00 sambil menunggu adik pulang. Akan tetapi, saya lebih sering tertidur saat nonton pertandingan bola. hehe...

Yap...itulah kegiatan saya di hari Sabtu yang sangat dirindukan. Jika waktu bisa diputar, ingin sekali rasanya kembali ke masa-masa itu, tetapi sepertinya memang tidak mungkin. Biarlah itu menjadi kenangan yang kelak akan selalu saya ingat :D


























Read more