Kamis, 05 Desember 2013

White Jasmine


Waktu itu perang dunia sedang berkecamuk di tanah Bavaria
Kaisar Romawi kembali bangkit menguasai bumi
Empat bintang berjajar menyambut kemenangan
Para gladiator pulang dengan kebanggaan
Bulan ketujuh datang sebagai bulan baru

Dengarkanlah....
Para saudagar Persia berlayar melintasi Terusan Panama tahu apa yang harus kau lakukan
Ketika pelangi kehilangan 2 berkas cahaya berurutan
Keindahan pun memudar
Karena keduanya saling terhubung

Sekuntum bunga melati putih tumbuh di negeri 9 raja
Negeri yang belum pernah merasakan pahit getirnya peperangan
Jika menjadi satu-satunya petunjuk
Tameng adalah kuncinya
Kunci untuk membuka pintu surga
Hanya 3 orang perompak yang mengetahui rahasia

Kau tahu, aku bukanlah aku
Ku tahu, kau bukanlah kau

Semuanya telah berbeda
Arah angin telah berubah
Bumi dan bulan makin jauh terpisah

Kau tahu, aku menantikan hari itu
Ku berharap kau pun begitu
Kau tahu supermoon itu
Aku pun begitu
Lintasan elips memberikan keuntungan

Kau tahu, setelah itu akan menjauh lagi
Aku pun tahu harus begitu
Kau tahu apa yang harus kau lakukan
Aku pun begitu

Read more

Jumat, 29 November 2013

On The Job Training (OJT48)

Setelah sekian lama absen, (saya bermasalah dalam hal konsistensi menulis) akhirnya saya kembali buka-buka blog curhatan alay tercintah ini. Ternyata masih ada banyak hal yang (lagi-lagi) belum sempat disampaikan. haha... *lempar sepatu
Kali ini mumpung lagi nganggur magang di Direktorat Sistem Perbendaharaan (DSP), Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementerian Keuangan dan mumpung ada koneksi internet dari si kinal (nama modem saya), akhirnya saya putuskan untuk menulis sepatah dua patah kata untuk para permirsah di rumah. Mmmm..tapi mau ngomong apa ya. -____-

Posisi saya ini lagi magang/On The Job Training (untuk selanjutnya kita singkat jadi OJT48) di instansi eselon 2 Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) yang terdiri dari:
  • 8 instansi pusat (kecuali Setditjen) di Gedung Prijadi I, II, III Jl. Wahidin, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat,
  • Kantor Wilayah (kanwil) DJPB di Otista, Jakarta Timur, dan
  • 3 Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) di Juanda (KPPN 4 dan 6) serta di Lapangan Banteng (KPPN 2)
Kegiatan magang sendiri dirolling tiap 2 minggu sekali. Untuk 2 bulan pertama, saya dan teman-teman kelompok 5 kebagian OJT48 di kantor pusat, yaitu Direktorat PPK BLU, APK, SP, dan TP. Otomatis, saya yang ngekos di daerah Senen masih nyantai pulang pergi jalan kaki, berangkat dari kosan jam setengah 7, sampai di kantor jam 7 pagi. Awalnya jalan kaki ke kantor yang paling cepat memakan waktu 20 menit itu sangat menyusahkan, apalagi bawa tas yang isinya banyak banget. Serasa jogging pagi-pagi sambil angkat beban selama 20 menit. hahaha... Tetapi setelah OJT48 berjalan seminggu, saya sudah terbiasa dengan rutinitas ini. 

Mulai pertengahan Desember, kami akan melakukan OJT48 di kanwil daerah Otista Jakarta Timur. Saya sendiri belum survei ke sana, tetapi kalau dilihat lewat peta jalur busway, sepertinya lumayan jauh juga. Saya yang berangkat dari halte Kwitang harus transit dulu di halte Senen Central, lalu transit lagi di halte Matraman ganti Transjakarta yang ke arah Kampung Rambutan. Kalau kata teman-teman, kanwil itu dekat dengan halte Bidara Cina. Berarti nanti saya juga harus turun di halte Bidara Cina *ya iyalah

Kalau dihitung dari halte Kwitang (tempat saya mulai perjalanan) ke halte Bidara Cina (Kanwil DJPB), ternyata harus melalui 11 hate dan 2 kali transit. Masalahnya saya belum bisa mengestimasikan lamanya perjalanan karena saya memang malas belum survei ke sana. Yang pasti saya tidak mungkin jalan kaki lagike kantor. Berarti saya harus berangkat pagi-pagi memburu Transajakarta tarif hemat 2 ribuan. haha

Setelah 2 minggu OJT48 di Kanwil, mulai akhir Desember sampai Februari, kami akan pindah kantor ke KPPN di Juanda. Untuk menjangkau tempat itu juga harus dengan sarana transportasi. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh (hanya jarak sekitar 5 halte busway kalau dari halte Atrium, turun di halte Pecenongan). Dulu sebenarnya sempat dikirimkan sepeda angin dari adik di Palur untuk saya yang dikirim lewat kereta api, tetapi malah saya kembalikan lagi ke rumah. *maaaap. Karena menggunakan sepeda angin justru akan tambah ribet, harus muter dulu. Selain itu, jalanan ibukota yang sekejam ibu tiri membuat saya malas bersepeda.

Sebenarnya kegiatan OJT48 ini direncanakan berakhir sekitar bulan Maret tahun depan. Akan tetapi, dari Setditjen sudah mewanti-wanti kami harus selalu bersiap diri karena rencana yang disusun sampai bulan Maret itu bisa saja berubah tergantung keluarnya SK CPNS kami. So, kalau SK keluar sebelum bulan Maret tahun depan, kegiatan OJT48 otomatis berakhir dan langsung masuk ke tahapan diklat-diklat sebelum kami diusir ditempatkan ke KPPN A2 di seluruh Indonesia.

Untuk masalah penempatan definitif, menurut kabar dari rumput yang bergoyang, kami diminta untuk memilih 2 KPPN A2 di seluruh Indonesia. Alhamdulillah lah ya bisa milih sendiri penempatan, minimal milih KPPN Wonosari lah yang ga jauh-jauh amat dari Palur. Berarti bisa pulang kampung sering-sering dong?? Siapa bilang!!! -___-

Kok bisa?? Kami memang disuruh milih sendiri daerah penempatan nanti, tetapi milihnya itu harus KPPN A2 di luar Jawa, Lampung, Bali, NTB. Huaaaaaahhhh...... T_T

Kami (saya dan teman-teman dari spesialisasi Kebendaharaan Negara), menurut formasi dari Kemenp*n akan ditempatkan di KPPN A2. Sementara itu, untuk teman-teman yang berasal dari Spesialisasi Akuntansi masih berpeluang dapat penempatan di kanwil. Lumayan lah ya kalau dapat ibukota propinsi. Sampai saat ini, saya sendiri belum yakin dengan kedua pilihan saya. Rencananya saya akan milih KPPN Bau-Bau dan KPPN Tanjung Pandan. Mungkin lain kali saja ya saya jelaskan kenapa saya bisa milih 2 KPPN tadi. *peace

Sekian dulu permirsah, kita lanjutkan kapan-kapan lagi di kesempatan yang akan datang.

Happy friday, happy freeday. Besok libuuuuuuuurrrrr.......
Read more

Selasa, 12 November 2013

The Last Days

Hiyaaaaaah…..akhirnya nulis lagi setelah sekian lama sengaja absen karena males. Haha…
Mmmmm…kali ini saya mau nulis tentang wisuda saya dulu (10 Oktober 2012), mumpung masih inget -___- (biar ada jembatannya juga dari cerita yang sebelumnya ke cerita saya yang lain nanti)

Setelah sebulan PKL di KPPN Solo, setelah sekian lama mengerjakan laporan PKL, setelah bolak-balik konsultasi ke dosbing, setelah seminggu ikut “wajib militer” di markas kopassus cijantung, setelah mengikuti prosesi yudisium internal bersama teman-teman seperjuangan, akhirnya kuliah saya beres juga. :D
Wisuda STAN lulusan 2012 ini akan diadakan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor pada hari Rabu, 10 Oktober 2012. Tempat itu sengaja dipilih karena kapasitas ruangannya yang besar dan tidak sulit dijangkau dari kampus kami di Bintaro.Jika biasanya wisuda  diadakan di Jakarta Convention Center ( JCC), kali ini panitia sepertinya sepaham dengan saya yang ingin wisuda di Bogor. Yap, saya memang berharap acara itu diadakan di Bogor saja karena SICC dekat dengan rumah om saya di Bogor. Jadi, tidak perlu repot-repot bangun tengah malam ikut rombongan bus ke SICC.Alhamdulillah :D

Saat itu biaya untuk ikut wisuda sekitar Rp850.000,00 per orang sudah termasuk semua perlengkapan wisuda seperti toga, liontin, souvenir, 2 orang pendamping wisuda, dll. Menurut perwakilan dari panitia, (katanya) harga setinggi itu sudah termasuk murah jika dibandingkan dengan acara wisuda di tempat lain.Setelah berkonsultasi dengan keluarga, akhirnya saya segera daftar acara wisuda di hari pertama supaya urusannya cepat beres serta berharap antreannya belum banyak. Dan benar saja, saat itu saya dan Bang Sandro yang sengaja daftar di hari pertama  berangkat pagi-pagi sekitar jam 8 pagi ke Bank Mandiri depan Bintaro Plasa, teman-teman belum banyak yang mengantre untuk membayar uang wisuda. Setelah kurang lebih 30 menit mengurus pembayaran, kami langsung menuju ke Gedung I untuk registrasi dan ukur badan untuk baju toga. Saat itu sekitar jam 10 pagi urusan saya daftar wisuda sudah beres, tinggal nunggu pengambilan toga, undangan, dan perlengkapan wisuda lainnya beberapa hari kemudian.

Karena saya daftar wisuda di hari pertama, serah terima perlengkapan wisuda pun juga lebih cepat daripada teman-teman lain yang daftar belakangan.Di saat teman-teman belum menerima perlengkapan wisudanya, saya sudah dapat perlengkapan wisuda beserta undangannya dengan lengkap.Sementara itu, teman-teman yang menerima perlengkapan wisuda belakangan, ternyata yang diterima belum komplet.Itu juga yang sempat membuat panitia wisuda diprotes keras di media sosial.

Seminggu sebelum wisuda, saya segera mengepaki barang-barang untuk dibawa pulang ke Palur.Tiga tahun kuliah ternyata barang-barang bawaan saya “beranak pinak”. Sempat saya perkirakan hanya perlu 4 buah kardus besar ternyata dibutuhkan 7 buah kardus besar untuk mengepak barang-barang saya seperti pakaian, buku, bedcover, gelas, piring, dll. Saya sempat bingung mencari kardus besar yang mampu mengangkut barang-barang saya tadi.Untungnya mas-mas penjaga toko kelontong langganan saya memberi beberapa buah kardus besar, Alhamdulillah. :D

Karena sudah tidak ada kegiatan di kampus dan semua urusan tentang pendaftaran wisuda sudah beres, saya bisa seharian beres-beres barang bawaan saya dan memasukkannya ke dalam kardus. Setelah beberapa jam, akhirnya semua barang yang akan dikirim ke rumah sudah masuk ke dalam kardus. Total ada 7 buah kardus. Itu pun masih ada beberapa barang yang belum terangkut seperti kipas angin, printer, monitor, laptop, dll yang rencananya akan saya angkut setelah acara wisuda sekalian pulang ke Palur.
Setelah memperhitungkan banyak hal, saya pun memutuskan untuk mengirimkan kardus-kardus tadi lewat bus Kramat Jati karena biayanya lebih murah dan agennya dekat dengan kosan saya. Hari itu, sekitar jam 10 pagi, saya mulai angkut satu per satu kardus-kardus tadi ke agen bus Kramat Jati yang jaraknya sekitar 400 meter dari kosan saya dengan jalan kaki -__-

Sekali berangkat, saya bawa 2 kardus sekaligus supaya lebih cepat.Berarti, saat itu saya 3 kali bolak balik membawa kardus ke agen bus. Padahal masing-masing kardus beratnya sekitar 30kg -____-
Saat itu biaya untuk mengirimkan kardus-kardus ke rumah sekitar 100 ribu lebih. Tapi kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih murah daripada dikirim lewat jasa ekspedisi lain.


Senin, 8 Oktober 2012
Saat itu, seperti biasa, sudah tidak ada kuliah, tidak ada ujian.Saya hanya menikmati hari-hari terakhir di Bintaro seperti biasa, seolah tidak ada hal yang spesial.Padahal lusa, hari Rabu, adalah hari yang bersejarah buat saya. Saya tidak ada ide akan ke mana dan melakukan apa pada hari itu. Dari pagi, saya melakukan aktivitas seperti biasa, nonton tv sambil internetan. Karena bosan, akhirnya sekitar jam 9, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke luar kos. Tiba-tiba tersirat ide untuk makan es pisang ijo di Jalan Pisok, depan kampus. Warung es pisang ijo itu adalah salah satu tempat makan favorit saya sejak tingkat 1 saya kuliah di STAN. Pertama kali ke sana karena diajak salah seorang teman. Ternyata rasanya sangat enak dan murah meriah, hanya 5000 rupiah.Apalagi kalau dimakan tengah siang.Saya baru tahu kalau es pisang ijo adalah makanan khas dari daerah Makassar, Sulawesi Selatan.Padahal saya sempat mengira kalau makanan itu berasal dari Aceh karena di warungnya ada tulisan “Banda Naira”. Haha…

Pada pagi hari itu saya jalan ke sana untuk membeli es pisang ijo. Sudah lama saya tidak ke sana, untung tidak banyak yang berubah. Pedagangnya masih tetap sangar seperti yang saya lihat sejak tingkat 1 dulu dengan warung yang sederhana, lokasinya masih tetap sama, dan yang terpenting rasa es pisang ijo masih tetap nikmat seperti yang dulu. Hanya harganya yang berubah jadi 6000 rupiah.

Saya sengaja memesan es pisang ijo untuk dibawa pulang ke kosan karena saya ingin menikmatinya sambil internetan seperti biasa.Dulu saya memang jarang makan es pisang ijo di warung karena tidak bisa santai dan berlama-lama.Ternyata saya lupa kalau barang-barang termasuk mangkok plasik sudah dikirim ke rumah.Untung masih ada piring yang tersisa dan sendok plastik bekas bubur ayam.

Siang harinya saya hanya nonton tv dan tiduran di kosan sambil berpikir mau ke mana sore nanti. Akhirnya saya menemukan ide untuk pergi ke kosan teman sekelas saya si Zaki di daerah PJMI, sekitar 600 meter dari kosan sekalian mengembalikan kabel printer yang sempat saya pinjam untuk mengeprint laporan PKL saya dulu sewaktu puasa.

Setelah mengirim pesan kalau saya akan ke sana setelah Maghrib, saya segera mandi sore harinya. Setelah salat Maghrib akhirnya saya segera bergegas ke kosan teman saya tadi. Sesampainya di sana ternyata kamar kosannya sudah banyak berubah. Kalau biasanya dia hanya sendirian di kamar, waktu itu kamarnya sudah ada 2 kasur yang menandakan kalau sekarang kamarnya diisi 2 orang.Sementara itu barang-barang pribadinya sudah banyak yang dimasukkan ke dalam kardus meskipun belum dikirim pulang. Di sana, saya hanya mampir sebentar saja sekitar 20 menit, yang penting kabel printer sudah saya kembalikan. Pulang dari kosan si Zaki, saya iseng-iseng mampir ke pasar malam di daerah Kalimongso, tidak jauh dari PJMI tadi.Niatnya cuma mau mampir beli makan malam di warung nasi goreng langganan saya, “warung nasi goreng 12”.Sudah setahun ini saya kalau makan nasi goreng di warung itu.Meskipun jauh dari kosan, tapi rasa nasi gorengnya sangat mantap.Tidak sia-sia jauh-jauh ke tempat itu.Jelas jauh lebih enak daripada nasi goreng langganan saya waktu tingkat 1 dulu di Jalan Pasir, dekat kosan.

Pulang dari “warung nasi goreng 12”, saya tergoda untuk mampir beli getuk di pasar kaget Kalimongso.Harganya cukup murah, hanya seribu rupiah.Akhirnya saya beli 2 biji.Selama perjalanan pulang ke kosan, tiba-tiba saya teringat perbincangan saya dengan ibu via telepon beberapa hari yang lalu tentang buku alumni.Yap, saat itu saya sengaja tidak beli buku alumni lulusan 2012 karena harganya yang mahal.Selain itu, banyak teman juga yang tidak beli.Setelah bicara dengan ibu tentang saya yang tidak beli buku alumni, saya malah dimarahi.Katanya, buku kenangan itu penting buat kenang-kenangan kalau nanti sudah kerja. Haha…. Akhirnya saya dengan terpaksa berusaha beli buku alumni yang tersisa di koperasi.Ternyata sampai di koperasi, buku alumni sudah habis.Sempat saya coba hubungi teman sekelas yang mengurusi buku alumni tapi ternyata stoknya sudah habis.Sedikit nyesel tapi Alhamdulillah. Hehe…

Sesampainya di kosan, sekitar jam 20.30, seperti biasa saya langsung menyalakan TV, nonton acara favorit, OVJ sambil makan nasi goreng yang tadi sudah dibeli. Setelah selesai makan, saya berinisiatif memeriksa kembali barang-barang yang akan saya bawa esok hari ke Bogor, terutama perlengkapan wisuda.
Perlengkapan wisuda termasuk undangan sengaja saya taruh di tas plastik besar pemberian panwis saat pengambilan toga beberapa hari sebelumnya. Baju, kemeja, dan barang-barang pribadi lain yang sudah masuk ke tas ransel hitam saya. Total barang bawaan yang saya bawa ke Bogor hanya tas plastik dan ransel. Semuanya sudah siap. Sebelum tidur, saya searching rute kereta yang akan saya naiki besok dari Bintaro ke Bogor. Ternyata transportasi dari Bintaro ke Bogor cukup mudah, hanya 2 kali naik KRL. Sekitar jam 22.00 akhirnya saya bisa tidur juga di malam terakhir saya di sana. Tak terasa memang sudah 3 tahun.

#gambar menyusul gan, upload di warnet luamaaaaa. -__-
Read more

Selasa, 17 September 2013

Penempatan Instansi, antara Pahit dan Manis





Hari itu, Kamis, 5 September 2013 adalah hari yang sangat dinantikan oleh semua lulusan STAN 2012. Yap…itu adalah hari pengumuman penempatan instansi eselon I Kementerian Keuangan. Penantian ini terasa sangat lama karena kami menunggu kepastian ini sudah hampir setahun, sejak wisuda 10 Oktober 2012. Pada hari itu juga sekaligus diumumkan hasil seleksi Tes Kompetensi Dasar (TKD) yang telah dilaksanakan beberapa minggu sebelumnya di kantor Badan Kepegawaian Negara (BKN) sesuai pilihan. Bagi yang telah mendapat skor TKD di atas 275, sudah dapat dipastikan aman karena poin 275 itu adalah passing grade yang telah ditentukan oleh Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB). Sementara itu, TKD merupakan salah satu tes yang harus dilalui sebelum mendapatkan penempatan instansi dan diangkat menjadi CPNS (yang nantinya menjadi PNS). Jadi, semua lulusan STAN harus lulus TKD ini dulu sebelum mendapatkan penempatan instansi. Saat itu, Alhamdulillah saya lulus TKD dengan skor 355. Dengan mempertimbangkan rumitnya soal yang keluar dan jauh dari perkiraan, skor itu sudah lumayan bagus buat saya.

Sebelum TKD, ketika masih bulan puasa, kami diharuskan untuk melakukan pendaftaran online melalui web Kementerian Keuangan untuk memilih lokasi ujian sekaligus memilih 3 dari 10 instansi eselon I Kemenkeu yang menjadi tujuannya kelak. Saat itu, saya sempat bingung akan memilih instansi apa yang cocok buat saya. Sempat berdiskusi dengan ibu, beliau hanya meminta agar saya tidak memilih instansi pajak (Direktorat Jenderal Pajak) dan bea cukai (Direktorat Jenderal Bea Cukai). Tidak terlalu jelas mengapa ibu melarang saya untuk memilih kedua instansi tersebut. Mungkin karena selama ini ibu yang selalu mengikuti berita melalui koran dan TV sering mendapat informasi-informasi negatif tentang kedua instansi tadi. Saya memilih untuk mengikuti nasehat ibu karena biasanya saran ibu selalu tepat. Hehe…

Yasudah berarti saya harus mencoret 2 instansi yang akan saya ambil. Pilihan saya tinggal 8 instansi yang bisa dipilih. Sempat terbersit untuk meminta saran seorang saudara jauh (paman) yang juga bekerja di lingkungan Kemenkeu (Bapepam LK) yang saat ini sedang kuliah S3 di Australia tapi niat tersebut saya batalkan karena saya harus segera melakukan pendaftaran online yang katanya nomor ujian tergantung cepat lambatnya kita melakukan pendaftaran. Saya yang saat itu sedang bersih-bersih rumah pun buru-buru mandi lalu mengeluarkan sepeda di garasi untuk segera meluncur ke warnet. Sebelum meninggalkan rumah, ibu hanya berpesan untuk memilih dengan hati, jangan buru-buru. Semuanya dipercayakan kepada saya karena saya sendiri yang dapat mengukur kemampuan diri sendiri. Di perjalanan masih bingung juga akan memilih instansi apa. Sesampainya di warnet, saya langsung buka web Kemenkeu. Setelah mengisi formulir data diri dan memilih lokasi ujian, akhirnya tiba juga pada bagian terakhir yaitu pemilihan 3 instansi eselon I Kemenkeu.

Dengan hanya bermodalkan nasehat ibu, saya beranikan untuk membuat keputusan yang cukup sulit ini. Bagi saya, pemilihan instansi ini akan sangat menentukan nasib saya ke depannya baik dari segi karir, pendidikan, lingkungan kerja, penempatan daerah, bahkan jodoh (yaelah bro -___-). Saya berusaha untuk tidak panik dan berpikir  sejernih mungkin. Yang saya lakukan adalah melakukan flashback saat kuliah tingkat 1 dulu. Saat itu saya sempat terobsesi dengan salah satu instansi eselon I Kemenkeu yaitu Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Menurut saya, BKF itu keren karena BKF adalah pusat kebijakan fiskal yang dibuat oleh Kemenkeu. Jika Kemenkeu diibaratkan badan manusia,maka  BKF itu adalah otaknya. Saya pun memutuskan untuk menempatkan BKF ini di pilihan pertama. Hal yang menguatkan saya adalah BKF berlokasi di pusat, tidak akan ditempatkan di daerah-daerah yang selama ini menjadi ketakutan tersendiri bari mahasiswa STAN. Selain itu, untuk mendapatkan beasiswa, BKF ini peluangnya sangat sangat besar. Makin mantap menempatkan BKF di urutan pertama.

Untuk pilihan kedua dan ketiga saya masih belum tahu harus memilih apa. Saya pun sempat terbersit pemikiran untuk memilih instansi yang sesuai keahlian saya di bidang penganggaran dan perbendaharaan. Pilihannya tidak lain dan tidak bukan adalah Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB). Dua direktorat ini sebenarnya seperti saudara kembar. Yap… kedua instansi itu pada hakekatnya hampir sama, hanya saja DJA bermain di urusan perencanaan, sedangkan DJPB lebih mengurusi pelaksanaan anggarannya. Satu hal yang membuatnya terasa sangat beda adalah DJA kantornya hanya ada di pusat, sedangkan DJPB selain di pusat, banyak juga kantor perbendaharaan (KPPN) yang ada di daerah di seluruh pelosok Indonesia (total ada 177 KPPN yang tersebar di 33 propinsi). Hal inilah yang menjadi momok besar buat alumnus STAN terutama spesialisasi Kebendaharaan Negara seperti saya. Sebagai loyalis KBN, tentu saya tidak bisa berpaling dari DJPB. #tsaaah

Oleh karena itu,  saya harus memasukkannya ke dalam salah satu pilihan saya dengan segala resiko yang harus siap ditanggung. Sebenarnya tidak ada larangan untuk tidak memilih DJPB tapi entah mengapa saya memang sudah berniat untuk memasukkannya ke dalam salah satu nominasi penempatan instasi. Padahal direktorat lain yang kantornya hanya ada di pusat sudah melambai-lambai menggoda untuk saya pilih. -___- Setelah menimbang-nimbang kedua instansi tadi, akhirnya saya memutuskan untuk menempatkan DJA di pilihan kedua dan DJPB di pilihan ketiga. Berarti pilihan saya adalah:
1. BADAN KEBIJAKAN FISKAL (BKF)
2. DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN (DJA)
3. DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN (DJPB)

Dengan mengucapkan basmallah, akhirnya saya klik “confirm” yang artinya tidak akan bisa diubah lagi pilihan yang sudah disusun. Tidak lama setelah itu, muncul kartu BPO saya dengan nomor 000953 dan lokasi ujian di Yogyakarta.

Kembali ke masalah pengumuman instansi eselon I Kemenkeu  tadi, 5 September adalah hari di mana instansi kami ditentukan. Sehari sebelum hari keramat itu, saya sengaja tidur cepat dan berdoa semoga mendapat yang terbaik sambil berharap bisa bangun pada  tengah malam untuk melihat pengumuman. Benar saja, ketika itu sekitar pukul 02.00 saya terbangun karena samar-samar saya mendengar ibu saya sedang ngobrol dengan adik tentang pengumuman penempatan instansi saya. Saya segera bergegas menyalakan laptop dan menyambungkan modem lalu membuka FB karena biasanya sudah ada link-link khusus tentang pengumuman penempatan instansi. Dan benar saja, di FB pun reaksi teman-teman sudah banyak yang heboh setelah melihat penempatan instansi masing-masing. Kebanyakan bersyukur dan menerima instansi yang sudah dipilihkan oleh Kemenkeu tapi tidak sedikit pula yang sunyi senyap tanpa berkata-kata. Mungkin itu bagian dari kekecewaan atau semacamnya karena tidak mendapat instansi sesuai keinginan atau mungkin karena mendapat instansi DJPB yang sudah terlanjur dicap sebagai instansi penempatannya jauh-jauh. Entahlah…

Saat itu memang banyak di antara kami, termasuk saya, yang tidak menginginkan penempatan DJPB karena masalah penempatan daerah yang akan sangat menyebar. Biarpun saya sebagai salah satu mahasiswa KBN, butuh pertimbangan khusus untuk memilih instansi DJPB yang akhirnya saya pilih juga saat mengisi nominasi penempatan instansi. Satu-satunya hal yang meragukan hanyalah masalah penempatan daerah. Beberapa hari sebelum pengumuman saya sempat terpikir untuk menghindari penempatan DJPB. Saya juga heran kenapa dulu meletakkan DJPB di pilihan ketiga. Andai waktu itu saya mengganti DJPB dengan instansi lain yang hanya ada di pusat mungkin saya tidak akan tegang ketika membuka pengumuman penempatan instansi. Tapi apa daya, keputusan sudah diambil. Saya sudah siap menerima resiko apapun.

Saya, didampingi ibu, kemudian membuka link pengumuman instansi. Setelah selesai mendownload, terbukalah pengumuman dalam format PDF itu, saya segera klik pada pencarian dengan menuliskan nama “ARYO WICAKSONO”. Beberapa detik kemudian muncullah nama saya beserta instansi penempatan dan waktu pemberkasan. Deeegggggg……



Jantung saya berdegup kencang tapi dengan ekspresi yang sangat datar begitu melihat ada 4 huruf di kolom instansi penempatan. DJPB!!!!!!!!!!!



Sempat tidak bisa berkata apa-apa dalam beberapa detik. Suasana yang sebelumnya ramai dengan suara ibu saya yang sudah tidak sabar membuka pengumuman instansi berubah menjadi hening seketika. Setelah beberapa detik hening, saya pun hanya mengucapkan dua buah kata ke ibu “DJPB bu.” Dengan suara lirih dan tatapan mata yang kosong. Ibu hanya berujar “Alhamdulillah le”. Seketika itu juga saya terbangun dari lamunan karena masih tidak percaya dengan apa yang saya lihat, kenyataan yang harus saya terima. Entah mengapa begitu tahu saya mendapat penempatan instansi di DJPB, hal yang pertama kali muncul di kepala saya adalah peta Indonesia dari Sabang sampai Merauke karena memang menurut pengalaman kakak-kakak tingkat, penempatan DJPB cenderung “kejam”. Karena tahu saya sedikit syok, ibu pun meninggalkan saya seorang diri dan beralih ke dapur supaya saya bisa menenangkan diri.

Entah mengapa saya sempat menyesali keputusan pemilihan instansi yang sudah disusun sebulan sebelumnya. Kenapa waktu itu saya pilih DJPB di pilihan ketiga? Kenapa tidak instansi lain saja yang ada di pusat? Kenapa harus saya yang ditempatkan di DJPB?

Saat itu, mental saya sempat drop dan masih belum bisa menerima kenyataan ini. Hal yang membuat saya sedikit “kecewa” adalah saat melihat penempatan teman-teman satu spesialisasi dengan saya. Ternyata alumnus spesialisasi KBN yang ditempatkan di DJPB “hanya” sekitar 50 orang atau sekitar seperempat dari jumlah keseluruhan alumnus KBN. Sebagian lainnya mendapat penempatan di Setjen, DJP, DJPU, DJA, dan lain-lain dengan porsi terbesar adalah DJP. Hal ini berbeda dengan penempatan tahun-tahun sebelumnya yang hampir 100% masuk ke DJPB. Bahkan sempat ada selentingan kalau apapun pilihan kita saat melakukan pendaftaran TKD, ujung-ujungnya “hanya” akan mendapat penempatan DJPB.
Saya tidak tahu pasti, mereka sengaja menghindari pemilihan DJPB atau memang sudah memilih DJPB tapi mendapat instansi yang lain. Menurut kabar burung, memang banyak yang sengaja menghindari DJPB dengan tidak memasukkannya ke dalam salah satu pilihan instansi penempatan karena takut mendapat penempatan daerah yang jauh.

Saat itu perasaan saya campur aduk antara senang, sedih, kecewa, marah. Yang jelas saat itu saya tidak bisa tidur sampai pagi. Yang saya lakukan hanyalah membuka FB melihat ekspresi teman-teman yang kegirangan mendapat instansi sesuai keingingan. Saat itu, lagi-lagi saya merasa seperti pecundang. Tiba-tiba teman saya (sebut saja Joko) curhat lewat chat di FB.

Joko: “Bro…”
Saya: “Halo rekan seperguruan. Haha..”
Joko: “Lu kemaren milih setjen ga?”
Saya: “Enggak. Haha… pilihan ane BKF, DJA, DJPB.”
Joko: “Jangan-jangan yang pada di pusat itu gara-gara emang sengaja ga milih DJPB.”
Saya: “Iya bro, emang banyak yg ga milih DJPB kok. yaudah lah gapapa. mungkin rejeki kita di DJPB. Hehe” (padahal ikutan nyesek juga)
Joko: “Susah emang membuang rasa pahit di hati ini.” (ceilaaah)
Saya: “Aku juga ngerasa agak nyesek sebenernya bro, tapi udah terlanjur jadi keputusan ga bisa diubah-ubah lagi. hehe.. tenang aja temen kita banyak kok” (sambil nguatin diri sendiri -___-)
Joko: “Gw ga bermaksud ngerendahin orang ya, tapi liat aja orang-orang kayak #$@, %&$, $@# malah dapet di pusat. Itu yang bikin nyesek’”
Saya: “Iya ane paham, tapi penentuan instansi ini kayaknya emang ngacak kok.”
Joko: “Lu masi berharap pengen ditaruh di pusat?”
Saya: “Ya iyalah bro, selama kesempatan masih ada, kita harus berusaha dapetin apa yang kita mau.”
Joko: “Yoa sip… yaudah gw mau minta diajarin nyuci n nyeterika sama emak”
Saya: “Wkwkwkwk….siiip bos.”

Percakapan saya dengan Joko tadi mungkin bisa mewakili perasaan kami yang mendapatkan instansi di DJPB. Perasaan yang benar-benar membingungkan. Dibilang senang bisa, dibilang sedih juga bisa. DJPB yang selama ini terlanjur terstigma menjadi instansi yang suram membuat kami langsung berpikiran yang negatif tentang masa depan kami di sana. Padahal belum tentu demikian.

Seharian itu dari dini hari jam 2 pagi hingga jam 6 pagi saya lebih banyak termenung meratapi nasib kenapa harus ditempatkan di DJPB. Untung teman baik saya memberikan banyak support supaya saya mengikhlaskan hati untuk menerima penempatan di DJPB. “Semua orang belum tentu dapat nasib sebaik kamu yang otomatis jadi pegawai Kemenkeu. Lihat di luar sana banyak yang mengantre untuk sekadar diterima menjadi pegawai Kemenkeu. Kamu yang udah enak ditempatin harusnya banyak-banyak bersyukur.” begitulah kata-katanya kepada saya. “Jangan terjebak apa kata orang. Yang sering dibilang negative itu belum tentu benar-benar negative. Lihatlah sisi positifnya supaya kamu bisa lebih bersyukur.” lanjutnya.

Pelan tapi pasti, saya mulai menerima kenyataan ini. Mulai menguatkan diri sendiri. Ibu yang sejak pagi hari tahu kalau saya sedang pusing memikirkan penempatan mulai memberikan semangat kepada saya. “Udah lah le, itu penempatan yang terbaik buat kamu. Ga usah disesali. Ibu bangga kok kamu ditempatkan di mana pun. Ibu malah senang kamu nurutin nasehat ibu untuk tidak milih pajak dan bea cukai.”
Saya hanya mengangguk dan mengambil nafas dalam-dalam supaya bisa lebih tenang. Daripada seharian galau, akhirnya saya memutuskan untuk mengurus surat sehat dan surat bebas narkoba ke RS Moewardi dengan nebeng adik yang sekalian berangkat kuliah.






Read more