Senin, 08 Oktober 2012

YUDISIUM




Jumat kemarin, 5 Oktober 2012 menjadi hari yang bersejarah buat kami mahasiswa STAN, khususnya spesialisasi Kebendaharaan Negara (KBN) dan Pengurusan Piutang Lelang Negara (PPLN) karena tepat pada hari itu sekitar pukul 09.45 WIB kami melakukan prosesi yudisium dan disahkan lulus sebagai mahasiswa oleh Direktur STAN, Pak Kusmanadji. Total ada 209 orang mahasiswa KBN dan 49 orang mahasiswa PPLN yang di-yudisium pada gelombang terakhir itu (spesialisasi lain sudah melaksanakan yudisium pada hari sebelumnya).

Menurut jarkom yang disampaikan ketua kelas, registrasi yudisium sudah bisa dilakukan mulai pukul 07.00. Malam sebelum yudisium sudah saya niatkan untuk tidak begadang. Akan tetapi, hingga pukul 24.00 saya masih belum bisa tidur juga karena terbayang-bayang yudisium besok. Akhirnya setelah minum air putih setengah gelas dan mematikan TV serta tidak lupa menyetel alarm HP pukul 05.00, saya bisa terlelap juga. Keesokan paginya saya terbangun sekitar pukul 04.45, bahkan lebih awal daripada alarm. -__-


Setelah salat subuh sempat kepikiran mau melanjutkan tidur tapi takutnya malah mblandang -__-

Akhirnya saya buka laptop dan nonton video klip musik yang kemarin malam selesai di-download. Tak terasa akhirnya sudah pukul 06.45, saya bergegas untuk mandi lalu memakai seragam lengkap dengan dasi hitam untuk yudisium. Setelah semuanya siap, sekitar pukul 07.00 saya menuju ke gedung G tempat dilaksanakannya yudisium. Sampai di sana masih sepi. Setelah saya ingat-ingat ternyata pukul 07.00 itu mulai registrasi sedangkan pelaksanaan yudisium pukul 08.00.  -__-





Pukul 08.00 semua mahasiswa KBN dan PPLN sudah berada di gedung G tetapi acara baru dimulai sekitar pukul 08.30 karena menunggu datangnya pak direktur. Acara yudisium dimulai dengan menyanyikan lagu "Mars STAN", "Indonesia Raya", dan "Padamu Negeri". Setelah itu, Ibu Lies selaku Kepala Bidang Akuntan maju ke podium untuk menyampaikan laporan kelulusan mahasiswa KBN dan PPLN. Selama 3 tahun menimba ilmu di STAN ternyata ada 10 orang mahasiswa KBN yang DO, sedangkan mahasiswa PPLN ada 3 orang. Menurut laporan itu juga diketahui bahwa ada sekitar 30% mahasiswa KBN  yang mendapat predikat "terpuji" atas IPK-nya, 60% mendapat predikat "sangat memuaskan", dan sisanya mendapat predikat "memuaskan". Sayang sekali saya tidak mendapat predikat "terpuji" itu karena IPK saya ada pada kisaran 3,4 tapi apapun itu harus disyukuri.



Setelah Bu Lies selesai membacakan laporan kelulusan mahasiswa, akhirnya Pak Kusmanadji maju ke podium untuk memberikan wejangan-wejangan bagi para calon wisudawan ini. Beliau memberikan wejangan dalam bentuk analogi. Beliau menganalogikan STAN sebagai seorang ibu, sedangkan kami (mahasiswa) adalah calon anak-anak yang akan dilahirkan. Selama 3 tahun menimba ilmu di STAN diibaratkan seorang ibu yang mengandung anaknya selama 3 tahun. Selama 3 tahun itu sang ibu merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. 

Nah, momen yudisium ini merupakan saat di mana anak-anak itu lahir dari rahim ibunya. Karena bukan anak-anak sembarangan, setelah lahir nantinya kami sebagai anak akan langsung dipisahkan dari sang ibu untuk hidup mandiri. Sebagai anak yang berbakti tentunya kita tidak boleh mencoreng nama baik "ibu" kita karena apabila kita berbuat salah otomatis nama "ibu" juga akan ikut tercemar. Oleh karena itu "sang ibu" berpesan untuk berbuat sebaik-baiknya dan jangan membuat kesalahan.

Setelah memberikan wejangan selama kurang lebih 30 menit, akhirnya sekitar pukul 09.45 Pak Kusmanadji mengesahkan kelulusan kami dan mulai saat itu kami sudah bukan mahasiswa lagi melainkan alumnus STAN. Begitu Pak Kusmanadji memberikan pengesahan kelulusan, semua mahasiswa nampak sangat bangga dan terharu serta tidak lupa mengucapkan syukur kepada Allah swt, sungguh momen yang sangat indah.



Sebagai bentuk penghargaan, 10 besar mahasiswa terbaik dari KBN dan PPLN diminta maju ke depan untuk diberi penghargaan oleh Pak Kusamanadji selaku Direktur STAN. Setelah itu, beliau pun meninggalkan gedung G karena ada acara lain di luar. Ternyata tidak hanya 10 besar mahasiswa terbaik saja yang maju ke depan, kami semua dipanggil satu persatu urut berdasarkan IPK masing-masing mulai dari peringkat 11 hingga 209. Setelah menanti cukup lama, akhirnya nama saya dipanggil. Saya ada di urutan ke-88 dari 209 mahasiswa KBN. Kebetulan peringkat 88 ada 4 orang termasuk saya. Alhamdulillah peringkat menengah keatas meskipun sedikit. Haha...



Sekitar pukul 11.00 acara selesai diakhiri dengan pembacaan doa. Sebelum pulang, kami harus tanda tangan berita acara peserta Capacity Building terlebih dahulu. Capacity Building ini dilaksanakan di Makopassus, Cijantung, Jakarta Timur selama seminggu dan dibagi dalam 3 gelombang (lain kali akan dibahas tentang Capacity Building ini). 

Alhamdulillah ternyata paniti sudah menyiapkan snack untuk kami. Setelah tanda tangan Capacity Building kami pun menikmati snack tadi dengan lahap, maklum belum sarapan. Hehe...


*) Setelah saya ingat-ingat tanggal 5 Oktober itu tenyata bukan tanggal yang biasa untuk saya. Bukan karena tanggal itu hari ulang tahun TNI, melainkan pada tanggal 5 Oktober tiga tahun lalu (2009) saya pertama kalinya menginjakkan kaki di kosan saya di Bintaro dan memulai "petualangan" baru sebagai mahasiswa STAN dan tepat pada tanggal yang sama tiga tahun  kemudian (2012) saya melaksanakan yudisium yang artinya saya sudah resmi lulus sebagai mahasiswa STAN. 

Sungguh momen yang sangat indah :)







Read more

Minggu, 07 Oktober 2012

"Si Ini" dan "Si Ono" (Part II)




Sementara itu, "SI ONO" adalah liontin perlengkapan wisuda. Hampir sama dengan "SI INI", tapi kalungnya berwarna ungu-kuning dengan sebuah medali berlogo STAN di ujungnya. Berbeda dengan "SI INI" yang didapat 3 tahun yang lalu dan dipakai selama kuliah di sini, "SI ONO" baru saja didapat minggu lalu saat mengambil perlengkapan wisuda di gedung I dan hanya digunakan sekali, yaitu saat wisuda nanti. Akan tetapi, "perjuangan" untuk mendapatkan "SI ONO" pun tidak bisa dibilang enteng. Saya (dan teman-teman seperjuangan) harus menimba ilmu di sini selama 3 tahun, 6 semester, 6 kali UTS, 6 kali UAS, dan sekali PKL dengan segala suka dukanya (lebih banyak sukanya sih, hehe...)


Wah jadi teringat masa-masa ujian (UTS/UAS) dulu. Ciri khas (sebagian besar) teman-teman saya mahasiswa STAN adalah santai saat kuliah tapi mematikan saat ujian. Yap, saya bilang santai saat kuliah karena memang saat ujian banyak yang kurang memperhatikan, tidur, bengong, ngantuk (kalo saya seringnya ngantuk, apalagi kalo semalam ada pertandingan bola. haha...) tapi nggak tau kenapa waktu ujian mereka bisa mengerjakan soal ujian dengan baik meskipun hanya bermodalkan ringkasan materi kuliah yang keluar beberapa hari sebelum ujian tiba. 


Ringkasan materi kuliah tadi meliputi semua mata kuliah yang akan diujikan lengkap dengan soal bahasnya. Ringkasan materi ini dibuat oleh IMMA (Ikatan Mahasiswa Muslim Anggaran). Kami biasa menyebutnya "pencerahan IMMA". Jujur adanya "pencerahan IMMA" ini sangat membantu belajar kami. Selain mengandalkan "pencerahan IMMA", biasanya kami belajar materi-materi kuliah dalam bentuk slide yang diberikan dosen, terutama dosen koordinator yang bertanggung jawab membuat soal ujian karena biasanya lebih "ampuh". Hehe...

Selain itu, beberapa hari menjelang ujian biasanya diadakan tentir, semacam belajar bersama dalam satu kelompok untuk membahas materi kuliah yang masih belum dipahami. Memang tidak semua mata kuliah akan dibahas di tentir. Tentir diadakan jika ada materi kuliah yang melibatkan hitung-hitungan rumit. Apabila materi ujian sebagian besar hafalan, tentir tidak diadakan. Tentir diadakan tidak harus di satu tempat tertentu. Kadang di kosan teman, sering juga memanfaatkan ruangan kelas saat libur karena memang diadakannya saat hari libur, yaitu sabtu atau minggu.  Biasanya 1 atau 2 orang ditunjuk sebagai tentor, sedangkan sisanya mendengarkan penjelasan yang diberikan. 

Saya sendiri mempersiapkan materi ujian seminggu sebelum hari H. Itu juga baru mengumpulkan niat -__-

Tapi apapun itu saya bangga jadi bagian dari keluarga besar STAN. Perjuangan kita selama 3 tahun ini berbuah satu medali yang akan kita pakai wisuda nanti :)

Rencananya "SI INI" dan "SI ONO" akan saya satukan dalam sebuah pigura yang nantinya akan saya pajang di kamar sebagai kenang-kenangan. so sweeeetttt. hahahaha.....

TAMAT
Read more

Kamis, 04 Oktober 2012

"Si Ini" dan "Si Ono" (Part I)


"SI INI" adalah KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) STAN Spesialisasi Kebendaharaan Negara warna merah yang didapat dengan susah payah. Jika diingat-ingat lagi perjuangan mendapatkan KTM ini memang cukup berat karena harus bersaing dengan setidaknya 88 ribu pendaftar lainnya. Sementara yang diterima tidak lebih dari 3000 mahasiswa. Suatu kebanggaan tersendiri tentunya.

Saat itu, untuk bisa lulus USM STAN saya sengaja ikut bimbel "Iwangsari" yang ada di dekat Stasiun Balapan Solo. Ya, saya masih ingat, ketika itu saya mendaftar bimbel tepat setelah acara kelulusan SMA di gedung Saba Buwana Solo. Selama sekitar 10 hari saya ikut bimbel tersebut. Lumayan banyak materi dan trik-trik yang didapat untuk bisa mengerjakan soal USM dengan cepat.

Pada saat hari H, kebetulan saya mendapat tempat ujian di YKPN Jogja. Ternyata yang ikut USM tidak hanya siswa lulusan 2009, tetapi banyak juga yang berasal dari angkatan sebelumnya. Sesampainya di sana sudah banyak pendaftar yang stand by di depan ruangan dengan berbekal buku-buku soal bahas USM STAN. Sempat minder juga melihat keseriusan pendaftar-pendaftar yang lain. Sementara itu, saya menghadapi USM dengan perasaan nothing to lose karena sebelumnya (alhamdulillah) saya sudah diterima di IT Telkom jurusan Teknik Telekomunikasi. Kalau tidak lulus pun, saya tidak akan terlalu meratapinya. Hehe...

Begitu bel tanda dimulainya ujian berbunyi, saya dan pendaftar lain langsung mengerjakan soal-soal USM dengan sebaik dan secepat mungkin. Karena perasaan nothing to lose tadi, saya bisa sedikit santai dan mengatur strategi bagian mana dulu yang harus dikerjakan. Dari awal, saya memang sudah mengincar soal-soal Bahasa Inggris terlebih dahulu karena sudah dibekali cara-cara mengerjakan soal dengan cepat dan tepat. Setelah sebagian besar soal Bahasa Inggris selesai dikerjakan, giliran soal-soal Tes Potensi Akademik (TPA) menunggu untuk dijawab. Menurut perhitungan saya, waktu pengerjaan soal akan selesai pukul 11.30. Saat itu, sekitar pukul 10.30 saya baru mengerjakan soal TPA. Baru terjawab beberapa soal tiba-tiba panitia mengingatkan kalau waktu pengerjaan soal hanya tersisa 10 menit lagi. Begitu kagetnya saya setelah tahu kalau waktunya tinggal 10 menit lagi padahal menurut hitungan saya seharusnya masih 40 menit lagi.

Setelah saya cek lembar soalnya ternyata saya yang salah menghitung waktu selesai ujian. 
What the.............-____-

Akhirnya saya pun pasrah mengumpulkan lembar soal dan jawaban yang belum semuanya terisi. Keluar dari ruang ujian dengan tertunduk, kesal dengan diri sendiri yang salah hitung jam. Tapi karena memang sudah nothing to lose, saya lupakan semua. Yang perlu dilakukan hanya menunggu hasilnya saja.

Pengumuman USM STAN baru dilakukan (kalau tidak salah) pada pertengahan Agustus 2009 saat saya sudah kuliah di IT Telkom Bandung. Saat hari pengumuman, saya hanya berdiam diri di kamar kosan karena memang sudah tidak yakin akan diterima sementara teman-teman yang lain sibuk mencari tahu apakah dirinya diterima atau tidak. Memang, teman-teman IT Telkom banyak juga yang dulu daftar USM STAN. Sampai tengah siang, teman-teman belum juga berhasil membuka pengumuman kelulusan karena webnya terlalu sibuk, banyak yang mengakses.

Sore harinya tiba-tiba saya ditelpon ibu dari kantor yang memang sebelumnya sudah mencatat nomor pendaftaran USM saya. Ibu bilang kalau saya diterima di spesialisasi Kebendaharaan Negara. Setengah tidak percaya, saya pun langsung menuju ke warnet dekat kosan untuk mengecek kebenaran berita tersebut. Mungkin karena jaringannya sudah tidak terlalu sibuk lagi, akhirnya saya dengan mudah dapat mengakses pengumuman itu. Setelah saya download, ternyata benar saya diterima di spesialisasi Kebendaharaan Negara.

Senang? Pasti lah senang. Tapi campur galau juga. Sebenarnya saya sudah nyaman tinggal dan kuliah di Bandung tapi kesempatan kuliah gratis di STAN tentu tidak bisa dilewatkan begitu saja. Setelah semalaman tidak bisa tidur karena menimbang-nimbang baik buruknya antara IT Telkom dan STAN, akhirnya saya membuat keputusan untuk meninggalkan IT Telkom untuk pindah ke STAN meskipun di Telkom sendiri saya sudah bayar lunas biaya kuliah selama satu semester dan sewa kosan selama setahun.

Dan saya rasa , keputusan yang saya ambil saat itu adalah tepat, sangat tepat. :)

(Lanjut ke Part 2 ya, udah malem nih. Besok mau Yudisium :D )






Read more