Rabu, 01 Oktober 2014

Penempatan Definitif DJPB 2014 (part 2)

KPPN Tipe A2 Liwa, Kantor Wilayah DJPB Propinsi Lampung

Begitulah kira-kira informasi yang ada di lembar kertas itu. Setelah mengetahui saya dapat penempatan di Kota Liwa, Lampung, yang notabene tidak jauh dari pulau Jawa, teman-teman memberikan selamat. “waahh..selamat ya. Enak dong deket cuma di Lampung.” Mmm...dekat ya. Yakin?

(FYI: dekat jika ditarik garis lurus  dari peta itu tidak selalu dekat dalam arti yang sesungguhnya. Nanti akan saya ceritakan seberapa “dekat” Kota Liwa yang sebenarnya. Haha...)

Setelah ada kepastian mendapatkan penempatan di Kota Liwa, saya segera menelpon ibu. (percakapan dalam bahasa jawa, saya translate ke bahasa indonesia ya. ^.^)
Saya    : “Assalamualaikum..buk....”
Ibu    : “Waalaikumsalam le. Gimana kamu dapet penempatan di mana?”
Saya    :  “Alhamdulillah buk aku dapet penempatan di Liwa”
Ibu    : “Liwa itu tempatnya di mana le. Ibu kok baru denger.”
Saya    : “Liwa itu di Propinsi Lampung buk. Alhamdulilah gak jauh-jauh banget dari Jawa.”
Ibu    : “Alhamdulillah le, ibu ikut seneng. Yang penting kamu ga dapet penempatan di Indonesia  timur aja udah bagus.
Saya    : “Iya buk. Yaudah ya buk, ini mau nyari tau penempatan temen-temen dulu. Assalamualaikum”
Ibu    : “Oiya le, waalaikumsalam.”

(FYI: “Le” adalah panggilan untuk menyebut  anak laki-laki dalam bahasa Jawa)

Sejenak saya mengamati suasana di halaman gedung ex-MA tempat dibagikannya SK Penempatan. Dari sudut ke sudut tergambar beragam ekspresi dari para pegawai baru setelah mendapatkan SK pertamanya. Ada yang nampak kegirangan karena dapat penempatan di ibukota propinsi, ada yang ceria karena dapat kota penempatan yang sama dengan teman lama, bahkan ada yang menangis karena dapat penempatan jauh terpisah dari cowoknya *ups.

Menarik sekali menyaksikan satu per satu ekspresi teman-teman begitu keluar dari aula gedung ex-MA setelah menerima SK.  Ada yang keluar dengan ekspresi harap-harap cemas, tetapi ada juga yang keluar dengan berteriak-teriak heboh. Sementara itu, kami yang sudah menerima SK terlebih dahulu sibuk berkeliling untuk mencari tahu penempatan teman-teman lainnya. Entah mengapa suasana pada siang hari itu lebih didominasi perasaan riang gembira. Jauh sekali dari perkiraan saya. Saya sempat mengira dibagikannya SK akan memberi suasana yang galau dan sedih. Syukurlah kami semua bisa menerimanya dengan baik.

Kalau saya waktu itu malah bingung mau pasang ekspresi seperti apa. Perasaan saya biasa-biasa saja. Ekspresi datar --,--
Tapi kalau boleh jujur, saya sendiri merasa sedih, bukan karena kota penempatan, tetapi lebih karena harus berpisah dengan kawan-kawan yang sudah seperti saudara sendiri. Tiba-tiba teringat memori ketika awal-awal pengarahan di gedung yang sama setahun sebelumnya, serunya outbond 3 hari di Citarik, kebersamaan ketika On The Job Training (OJT) selama lebih dari 7 bulan, betahnya 3 minggu DTU dan DTSD di Gadog, “tersiksanya” kami digulung-gulung Kopassus ketika diklat Prajabatan, dan tentu saja kebersamaan selama 4 bulan magang jauh di KPPN Jakarta 5. Semuanya kami lalui bersama-sama. Sejak keluarnya SK itu berarti juga kebersamaan kita segera berakhir. T.T

Setelah menerima SK Penempatan, kami tidak kembali ke kantor magang kami masing-masing karena hari itu agendanya hanya pengarahan oleh Setditjen di kantor pusat. Oleh karena itu, untuk “merayakan” penempatan, kami satu kelompok pegawai magang KPPN Jakarta 5, meskipun tidak semuanya, bersama-sama main ke Atrium Plasa yang tidak jauh dari kantor. Berangkat dari Jalan Wahidin II tengah siang sekitar jam 11.00 dengan menumpang angkot, hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai Atrium Plasa. Di sana kami langsung menuju Platinum Resto untuk makan siang. Cukup lama kami nongkrong di sana, mungkin sejam lebih. Entah mengapa suasana di Atrium kali itu sangat sepi, tidak seperti biasanya. Percakapan kali itu didominasi tentang penempatan yang barusan diterima masing-masing dan disertai dengan candaan-candaan seperti biasanya.

Sangat jarang kami bisa kumpul-kumpul seperti ini, meskipun tidak full team. Seingat saya, terakhir kali kami bisa berkumpul yaitu ketika buka puasa bersama di Pejaten Village Mall, tidak jauh dari KPPN Jakarta 5. Memang sering kami main bareng, tapi mungkin hanya berempat atau berlima saja. Selesai makan siang, kami pun memutuskan untuk nonton film di XXI Atrium Plasa sembari menunggu waktu sore hari. Ketika itu kami memilih film “The Expendables 3”. Film dimulai jam 13.45 dan berakhir jam 15.45. Di dalam teater, saya lebih banyak mengantuk daripada fokus nonton film. Haha...

Ketika film berakhir, kami pun berpisah. Ada yang langsung pulang ke kosan dan ada juga yang mampir ke Matahari Atrium Plasa. Saya ikut main ke Matahari untuk sekadar jalan-jalan melepas penat. Setelah bosan dan waktu menunjukkan jam 16.00, saya memutuskan untuk pamit pulang ke kosan yang sebenarnya tidak jauh dari Atrium. Ternyata momen itulah terakhir kalinya kami, pegawai magang KPPN Jakarta 5, makan dan berkumpul bersama. Saya akan selalu mengingatnya.

Sebelum keluar dari Atrium Plasa, saya mampir dulu ke Breadtalk untuk beli roti favorit saya, Butter Sugar. Akhirnya saya berjalan keluar meninggalkan Atirum Plasa menuju kosan yang jaraknya mungkin hanya 8 menit berjalan kaki. Di perjalanan pulang itu ada perasaan yang sedikit janggal. Entahlah. Suasana sedih tiba-tiba menyelimuti saya sore hari itu. Saat masuk ke Jalan Kwini, tiba-tiba teringat memori saat awal-awal tinggal di sana. Jalan yang tiap pagi saya lewati untuk berangkat ngantor. Jalan yang nantinya tidak akan saya lewati lagi. Langkah menjadi berat karena memori itu akan sangat membekas meskipun belum ada setahun tinggal di sana. Matahari masih bersinar dengan terangnya meskipun sudah hampir senja, menemani hati yang menyadari bahwa harus segera pergi, meninggalkan semua kenangan.

“...apakah kau melihat langit mentari senja, mengajak untuk menerima keadaan saat ini dan terus maju. Dan bila kehilangan sesuatu, pastilah suatu saat nanti hal itu akan tergapai. Langit sekitar mulai berubah menjadi gelap. Dihias oleh titik garis yang terbentuk dari bintang-bintang. Sampai hari esok tibalah nanti. Lihatlah mimpi seperti dirimu sendiri...”

**********************************************************************************

Sekadar informasi, penempatan definitif angkatan kami semuanya tidak ada yang dapat di Jawa. Semuanya menyebar ke seluruh pelosok Indonesia mulai dari KPPN Sabang sampai KPPN Merauke, dari KPPN Atambua sampai KPPN Tahuna. Tiap kantor biasanya mendapatkan 2-3 orang pegawai baru, tetapi ada beberapa kantor yang hanya mendapatkan seorang pegawai baru. Jika dibandingkan dengan pernyataan sebelumnya yang menyebutkan bahwa kami hanya akan dapat penempatan di KPPN A2 di luar Jawa, NTB, Bali, dan Lampung, sepertinya kurang tepat. Karena pada kenyataannya, memang hanya Jawa yang tidak menerima pegawai baru. Di tempat “terlarang” lain seperti NTB, Bali, dan Lampung masih menerima pegawai baru. Tambahan lagi, penempatannya tidak hanya di KPPN A2. Memang sebagian besar di KPPN A2, tetapi banyak juga yang dapat penempatan di KPPN A1 daerah, KPPN A1 ibukota propinsi, dan kantor wilayah DJPB.

Apa dasar penempatan definitif??
Pertanyaan yang bagus.

Setditjen DJPB menyatakan bahwa penempatan kami diputuskan berdasarkan hasil TKD (Tes Kompetensi Dasar), hasil assessment, penilaian selama magang, dan DTSD (Diklat Teknis Substansi Dasar). #cmiiw
Sejak awal magang, kami sudah diberi tahu kewajiban untuk mengisi kegiatan kami selama magang ke dalam aplikasi SUNTARA dan di akhir sesi magang (sekitar bulan April/Mei 2014)  kami diwajibkan untuk membuat semacam karya tulis dengan topik yang sesuai dengan tempat magang yang kita dalami. Tapi entah mengapa saya tidak terlalu percaya penentuan penempatan serumit itu. Haha...

Kalau boleh menebak-nebak, sepertinya ada keterkaitan antara daerah penempatan dan domisili. Akan tetapi, hal ini hanya berlaku bagi pegawai baru yang berasal dari luar Jawa. Sementara itu, mayoritas pegawai yang berasal dari pulau jawa tidak ada kaitannya sama sekali karena pegawai yang berasal dari Jawa tidak boleh dapat penempatan di Jawa. -,-

Pegawai baru yang berasal dari Sumatera cenderung dapat penempatan di Sumatera juga. Begitu pula dengan Kalimantan dan Bali. Pegawai baru yang berasal dari Sulawesi justru kebanyakan dapat penempatan di daerah Papua. Sementara itu pegawai baru yang berdomisili di Jawa mendapatkan penempatan yang menyebar dari Aceh sampai Papua. Entah ini valid atau tidak. Namanya juga ilmu kira-kira tapi memang begitulah adanya. Haha...

Satu hal yang harus dicatat, pola penempatan ini tidak selalu sama dari tahun ke tahun. Tiap tahun itu mempunyai tren yang berbeda. Untuk tahun-tahun berikutnya mungkin akan ada perbedaan tergantung kebijakan yang diambil ^.^.

Mungkin sekian dulu cerita saya kali ini.

Untuk teman-teman senasib seperbendaharaan, teruslah berjuang di tempat kalian masing-masing. Jangan jadikan jarak sebagai sebuah beban. Sulit memang berjauhan dari keluarga dan orang-orang terkasih. Anggaplah ini sebagai sebuah proses pendewasaan untuk kita. Kalau dulu waktu kuliah di STAN atau magang di Jakarta bisa tiap bulan pulang ke rumah. Dengan kondisi yang sekarang ini, bisa pulang 3 kali dalam setahun saja sudah sangat bersyukur. Jangan menyerah karena kita sudah berjalan sejauh ini. Teruslah berkarya kawan-kawanku semuanya. Semoga kita nanti bisa berjumpa lagi. Saya bangga menjadi bagian dari kalian. 

Untuk adik-adik kelasku yang mungkin membaca tulisan ini, jangan pernah khawatir dengan momok yang bernama “penempatan”. Asal kita ikhlas dan menjalaninya dengan sabar, Insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Janganlah kau ragu menjadi bagian dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang tercinta ini. Biarlah orang lain berkata apa. Jangan ada sedikit pun keraguan di hatimu. Niatkanlah bekerja untuk beribadah. Doa orang tua selalu menyertaimu. Mari kita bersama-sama membangun negeri tercinta ini.
Read more

Kamis, 25 September 2014

Penempatan Definitif DJPB 2014 (part 1)

SENIN 18 Agustus 2014

Nampaknya menjadi hari yang akan berakhir seperti biasanya bagi saya. Kegiatan saya di awal minggu setelah perayaan HUT RI ke-69 itu seperti rutinitas yang saya jalani sebelumnya. Bangun pagi-pagi, pergi ke kantor naik transjakarta, kerja, pulang lagi ke kosan sekitar jam 18.30.  Sesampainya di kosan langsung saya langsung mandi lalu bersiap keluar untuk makan malam di warung nasi goreng di depan gang masuk kosan. Sekitar jam 20.30 ketika saya sedang nonton TV di kosan, tetiba handphone saya berdering suara notifikasi grup Whatsaap kelompok magang KPPN Jakarta 5. Saya kira isi percakapan di grup tersebut hanya obrolan-obrolan ringan biasa. Setelah saya baca-baca, ternyata ada info dari PIC kelompok magang KPPN Jakarta 5 yang mengabarkan bahwa keesokan harinya yaitu Selasa, 19 Agustus 2014, kami (pegawai magang DJPB 2013-2014) yang berjumlah 155 orang semuanya diundang untuk menghadiri acara yang diadakan oleh Setditjen DJPB di Gedung ex-MA, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat jam 08.00. Waktu itu sama sekali belum ada kejelasan mengenai teknis acara tersebut seperti apa. Akan tetapi, hampir semua teman seperbendaharaan berspekulasi bahwa besok adalah hari pembagian SK Penempatan. Dyaaaar...

(FYI: KPPN adalah Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara yang merupakan kepanjangan tangan/kantor vertikal DJPB yang ada di daerah. Tugas utamanya adalah dalam hal pencairan dana APBN satker-satker pemerintah pusat yang ada di daerah *singkat aja penjelasannya #cmiiw)

Malam itu, saya sempatkan bertelepon dengan ibu dan mengabarkan kalau besok kemungkinan akan dibagikan SK penempatan definitif. Ibu saya tidak lupa mendoakan yang terbaik buat saya. Saya juga dinasehati supaya terus berdoa agar mendapat penempatan yang baik. Sejak dari awal, ibu saya berharap saya tidak dapat penempatan di daerah Indonesia bagian timur, terutama Papua, NTT, dan Maluku. Entah apa alasannya.

(FYI: belakangan saya tahu kalau ibu tidak pengen saya dapet penempatan di Indonesia Timur karena katanya daerahnya tidak aman. Padahal saat magang, saya sangat ingin dapat penempatan di daerah eksotis Indonesia timur seperti Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Saya bahkan sempat ingin memilih Bau-Bau kalau diperbolehkan memilih. Akan tetapi kenyataan berkata lain -,-)

Beberapa menit bertelepon dengan ibu, hati saya sedikit tenang. Sebelum tidur saya tiba-tiba teringat percakapan saya dengan adik via telepon beberapa hari sebelumnya, dia menebak saya akan mendapat penempatan di daerah Lampung. Dia mendapat firasat itu ketika menjemput saya pulang mudik Lebaran di bandara Adi Soemarmo sebulan sebelumnya. Ketika itu dia melihat seorang bapak-bapak keluar dari bandara dengan mengenakan jaket bertuliskan “KPPN Lampung”. Ah saya rasa tidak mungkin. Impossible.

(FYI: ketika awal pengarahan dan orientasi, Setditjen DJPB memberitahukan bahwa penempatan angkatan kami semuanya akan disebar di KPPN tipe A2 di seluruh Indonesia kecuali Jawa, Bali, NTB, dan Lampung. Apakah nantinya akan seperti itu? Kita lihat saja nanti.)

Sambil menebak-nebak apa yang akan terjadi pada esok hari, kami semua juga tidak lupa berdoa jikalau besok memang hari penentuan bagi kami. Kabar penempatan definitif seakan menjadi “berita panas” buat kami. Sudah sejak lama kami menantikan kabar mengenai pengumuman penempatan definitif. Mungkin sudah sejak kami mengikuti DTSD, kabar mengenai penempatan tersebut makin sering terdengar. Jika instansi lain seperti DJP, DJBC, dan DJKN sudah mengumumkan penempatan definitifnya masing-masing, instansi kami ini sepertinya sengaja menunggu diklat Prajabatan selesai terlebih dahulu. Pada tahun 2014, diklat Prajabatan terbagi menjadi 4 gelombang yang dimulai dari bulan Mei dan berakhir pada bulan Juli. Kami memperkirakan pengumuman penempatan definitif akan dilakukan setelah Lebaran, yaitu sekitar bulan Agustus 2014. Saya pribadi ketika itu berharap pengumuman penempatan definitif keluar awal tahun 2015 saja karena sudah terlanjur betah magang di KPPN Jakarta 5. Hehe...

SELASA 19 Agustus 2014. Apakah hari itu tiba?

Saya terbangun dengan kondisi badan yang pegal-pegal karena semalam tidak nyenyak tidur. Beberapa kali terbangun karena kepikiran acara esok harinya. Karena jarak dari kosan ke gedung ex-MA di Lapangan Banteng tidak terlalu jauh, saya sengaja berangkat agak siang. Sudah lama sekali rasanya saya tidak melewati jalur ke kantor pusat DJPB itu. Dulu pada awal magang di kantor pusat sekitar akhir tahun 2013, saya terbiasa berjalan kaki menyusuri ramainya jalanan ibukota. Jarak dari kosan ke kantor pusat hanya sekitar 20 menit dengan berjalan kaki. Saya berangkat jam 6.30 dan tiba di dekat Gedung ex-MA sekitar jam 7.00. belum ada banyak orang di sana. Beberapa menit kemudian barulah berdatangan kawan-kawan dengan wajah yang khawatir. Jam 07.30 kami dipersilakan masuk ke dalam aula utama Gedung ex-MA dengan terlebih dahulu mengisi daftar hadir dan mengambil kotak snack. Di dalam aula utama yang berarsitekstur Eropa kuno itu (sok tau),  meja dan kursi sudah ditata sedemikian rupa hingga membentuk formasi lingkaran dengan 2 baris kursi di tiap sisinya.

Tidak lama kemudian para petinggi Setditjen masuk ke ruangan. Seketika itu juga MC langsung membacakan susunan acara yang hanya terdiri dari: Sambutan/pembukaan oleh Sesditjen, Acara inti, dan Pembacaan doa. Singkat memang. Sedikit lega karena tidak ada agenda pembagian SK penempatan definitif. Tapi tunggu dulu, kalau hanya acara sharing session mengapa ada beberapa pejabat Setditjen yang datang. Menjadi pertanyaan buat saya. Akan tetapi, saya tetap berharap hari itu hanya acara sharing session antara pihak Setditjen dengan para pegawai magang. Sepertinya harapan saya tadi terkabul karena acara inti hanya berisi pemaparan kegiatan magang yang telah dijalankan dan tanya jawab. Ketika memasuki acara inti yaitu pemaparan tentang kegiatan magang, panitia sempat sedikit menyinggung mengenai masalah penempatan. Beberapa orang dari kami sempat bertanya tentang kapan dan bagaimana teknis penempatan. Wah mulai timbul rasa khawatir jika hari itu benar-benar dibagikan SK penempatan kami masing-masing. Hingga acara inti berakhir nampaknya tidak ada tanda-tanda akan dibagikan SK penempatan. Tibalah kami pada sesi terakhir yaitu pembacaan doa. Alhamdulillah. Saya sedikit lega. Mungkin memang belum saatnya kami keluar dari Jakarta.

Ketika doa sedang dibacakan oleh panitia, saya sempat bersyukur karena tidak jadi dibagikan SK penempatan pada hari itu. Yes...yes..yess.. Akan tetapi kok rasa-rasanya ada yang aneh. Tunggu sebentar. Apa ya yang tadi sepintas dibacakan oleh pembaca doa. Saya baru menyadari dalam pembacaan doa tadi ada kalimat yang kira-kira seperti ini “...Ya Allah Ya Tuhan kami, berikanlah kami kekuatan untuk menerima SK Penempatan kami pada hari ini dengan ikhlas...”

Deggg....jantung saya pun sejenak berhenti berdetak karena kaget dengan apa yang dibacakan di dalam doa tadi. Setelah doa selesai dibacakan, kami semua histeris. Ada perasaan senang, sedih, terharu, dan sebagainya. Semuanya bercampur menjadi satu. Senang karena akhirnya turun juga SK Penempatan definitif kami yang berarti sudah ada kejelasan dan tentu saja sedih karena harus berpisah dari teman-teman sesama pegawai magang maupun dengan rekan-rekan pegawai di KPPN Jakarta 5. Tidak lama kemudian seorang pegawai Setditjen masuk ke aula utama Gedung ex-MA dengan membawa setumpuk besar map berwarna putih dan diletakkannya di meja Kasubag Mutasi yang tadi bertugas sebagai pembicara utama. Begitu tumpukan map besar tadi diletakkan di atas meja, Kasubag Mutasi langsung memberikan nasehat buat kami yang isinya kira-kira seperti ini “...hari ini kalian akan menerima takdir kalian masing-masing, jangan anggap penempatan ini sebagai sebuah beban untuk kalian. Jadikanlah penempatan ini sebagai sebuah proses untuk menuju kesuksesan di masa depan. Percayalah. Kami (para pejabat) dulunya juga seperti kalian. Kami bisa menjadi seperti ini setelah melalui proses yang sangat panjang dan ditempatkan di berbagai penjuru Indonesia. Ikhlaslah menerima penempatan kalian pada hari ini...”

Sebelum membagikan SK Penempatan, panitia tidak lupa memberitahukan bahwa terhitung mulai hari Jumat, 21 Agustus 2014 kami sudah dibebastugaskan dari kewajiban magang kami di tempat masing-masing dan harus sudah lapor di kantor baru tanggal 15 September 2014.  Berarti masih ada waktu sekitar 3 minggu untuk membereskan urusan di Jakarta dan tentu saja pulang kampung. Kami makin histeris dibuatnya. Saya berusaha menarik napas panjang untuk sejenak menenangkan diri. Akhirnya tibalah sesi tambahan yang sebenarnya tidak ada di agenda acara pada hari itu, yaitu pembagian SK Penempatan definitif. Kami diminta untuk tenang sejenak. Setelah pembacaan doa tadi, suasana di aula Gedung ex-MA berubah menjadi riuh. Pembagian SK Penempatan dilakukan urut sesuai abjad mulai dari A hingga Z. Satu per satu menerima SK masing masing. Total ada 155 pegawai lulusan prodip dan 4 orang pegawai seleksi umum S1. Ketika nama dipanggil, langsung maju mengambil map dan menandatangani 2 lembar tanda terima lalu dipersilakan keluar dari aula dengan tertib. Karena nama saya diawali dengan huruf “A”, saya akan mendapatkan SK di awal-awal. Kalau urutannya sesuai dengan daftar hadir yang ada di depan tadi, berarti saya mendapat urutan yang ke-29. Semoga saja saya siap menerimanya. Waktu itu saya tidak berharap banyak akan ditempatkan di tempat yang enak (minimal ibukota propinsi). Saya hanya berdoa supaya diberikan kekuatan dan keikhlasan dalam menerima SK.

Akhirnya saat-saat yang mendebarkan itu datang juga. Saya sangat tegang saat menerima map putih yang di dalamnya berisi SK penempatan definitif. Setelah menandatangani tanda terima dan bersalaman dengan panitia, saya buru-buru keluar ruangan. Di luar, saya sudah disambut teman-teman yang sudah menerima SK terlebih dahulu. “Dapet penempatan di mana?” begitulah pertanyaan kawan-kawan ketika itu. Saya belum sempat membuka map tetapi teman-teman yang lain sudah tidak sabar ingin tahu. Ketika saya buka map putih tadi ternyata berisi selembar SK CPNS dan satu amplop berwarna cokelat yang di dalamnya berisi SK Penempatan. Saking tegangnya, tangan saya sampai gemetaran. Untuk membuka amplop cokelat itu pun saya butuh waktu beberapa menit. Setelah amplop terbuka, saya langsung fokus mencari nama kota penempatan saya tanpa memperhatikan nomor SK atau detail-detail lainnya. “hadduuuuh...mana ya tulisan nama kotanya?” Karena tegang, saya tidak menyadari kalau nama kota penempatan dituliskan di paling bawah SK Penempatan. Nama kota penempatan juga ada di balik SK tersebut. Saya sempat tidak menemukannya. Justru teman saya yang berhasil menemukan nama kota penempatan saya. Dan ternyata kota penempatan pertama kali saya adalah.....

(pict-nya nyusul gan. ane publish dulu deh ya ^.^)
Read more