Selasa, 17 September 2013

Penempatan Instansi, antara Pahit dan Manis





Hari itu, Kamis, 5 September 2013 adalah hari yang sangat dinantikan oleh semua lulusan STAN 2012. Yap…itu adalah hari pengumuman penempatan instansi eselon I Kementerian Keuangan. Penantian ini terasa sangat lama karena kami menunggu kepastian ini sudah hampir setahun, sejak wisuda 10 Oktober 2012. Pada hari itu juga sekaligus diumumkan hasil seleksi Tes Kompetensi Dasar (TKD) yang telah dilaksanakan beberapa minggu sebelumnya di kantor Badan Kepegawaian Negara (BKN) sesuai pilihan. Bagi yang telah mendapat skor TKD di atas 275, sudah dapat dipastikan aman karena poin 275 itu adalah passing grade yang telah ditentukan oleh Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB). Sementara itu, TKD merupakan salah satu tes yang harus dilalui sebelum mendapatkan penempatan instansi dan diangkat menjadi CPNS (yang nantinya menjadi PNS). Jadi, semua lulusan STAN harus lulus TKD ini dulu sebelum mendapatkan penempatan instansi. Saat itu, Alhamdulillah saya lulus TKD dengan skor 355. Dengan mempertimbangkan rumitnya soal yang keluar dan jauh dari perkiraan, skor itu sudah lumayan bagus buat saya.

Sebelum TKD, ketika masih bulan puasa, kami diharuskan untuk melakukan pendaftaran online melalui web Kementerian Keuangan untuk memilih lokasi ujian sekaligus memilih 3 dari 10 instansi eselon I Kemenkeu yang menjadi tujuannya kelak. Saat itu, saya sempat bingung akan memilih instansi apa yang cocok buat saya. Sempat berdiskusi dengan ibu, beliau hanya meminta agar saya tidak memilih instansi pajak (Direktorat Jenderal Pajak) dan bea cukai (Direktorat Jenderal Bea Cukai). Tidak terlalu jelas mengapa ibu melarang saya untuk memilih kedua instansi tersebut. Mungkin karena selama ini ibu yang selalu mengikuti berita melalui koran dan TV sering mendapat informasi-informasi negatif tentang kedua instansi tadi. Saya memilih untuk mengikuti nasehat ibu karena biasanya saran ibu selalu tepat. Hehe…

Yasudah berarti saya harus mencoret 2 instansi yang akan saya ambil. Pilihan saya tinggal 8 instansi yang bisa dipilih. Sempat terbersit untuk meminta saran seorang saudara jauh (paman) yang juga bekerja di lingkungan Kemenkeu (Bapepam LK) yang saat ini sedang kuliah S3 di Australia tapi niat tersebut saya batalkan karena saya harus segera melakukan pendaftaran online yang katanya nomor ujian tergantung cepat lambatnya kita melakukan pendaftaran. Saya yang saat itu sedang bersih-bersih rumah pun buru-buru mandi lalu mengeluarkan sepeda di garasi untuk segera meluncur ke warnet. Sebelum meninggalkan rumah, ibu hanya berpesan untuk memilih dengan hati, jangan buru-buru. Semuanya dipercayakan kepada saya karena saya sendiri yang dapat mengukur kemampuan diri sendiri. Di perjalanan masih bingung juga akan memilih instansi apa. Sesampainya di warnet, saya langsung buka web Kemenkeu. Setelah mengisi formulir data diri dan memilih lokasi ujian, akhirnya tiba juga pada bagian terakhir yaitu pemilihan 3 instansi eselon I Kemenkeu.

Dengan hanya bermodalkan nasehat ibu, saya beranikan untuk membuat keputusan yang cukup sulit ini. Bagi saya, pemilihan instansi ini akan sangat menentukan nasib saya ke depannya baik dari segi karir, pendidikan, lingkungan kerja, penempatan daerah, bahkan jodoh (yaelah bro -___-). Saya berusaha untuk tidak panik dan berpikir  sejernih mungkin. Yang saya lakukan adalah melakukan flashback saat kuliah tingkat 1 dulu. Saat itu saya sempat terobsesi dengan salah satu instansi eselon I Kemenkeu yaitu Badan Kebijakan Fiskal (BKF). Menurut saya, BKF itu keren karena BKF adalah pusat kebijakan fiskal yang dibuat oleh Kemenkeu. Jika Kemenkeu diibaratkan badan manusia,maka  BKF itu adalah otaknya. Saya pun memutuskan untuk menempatkan BKF ini di pilihan pertama. Hal yang menguatkan saya adalah BKF berlokasi di pusat, tidak akan ditempatkan di daerah-daerah yang selama ini menjadi ketakutan tersendiri bari mahasiswa STAN. Selain itu, untuk mendapatkan beasiswa, BKF ini peluangnya sangat sangat besar. Makin mantap menempatkan BKF di urutan pertama.

Untuk pilihan kedua dan ketiga saya masih belum tahu harus memilih apa. Saya pun sempat terbersit pemikiran untuk memilih instansi yang sesuai keahlian saya di bidang penganggaran dan perbendaharaan. Pilihannya tidak lain dan tidak bukan adalah Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB). Dua direktorat ini sebenarnya seperti saudara kembar. Yap… kedua instansi itu pada hakekatnya hampir sama, hanya saja DJA bermain di urusan perencanaan, sedangkan DJPB lebih mengurusi pelaksanaan anggarannya. Satu hal yang membuatnya terasa sangat beda adalah DJA kantornya hanya ada di pusat, sedangkan DJPB selain di pusat, banyak juga kantor perbendaharaan (KPPN) yang ada di daerah di seluruh pelosok Indonesia (total ada 177 KPPN yang tersebar di 33 propinsi). Hal inilah yang menjadi momok besar buat alumnus STAN terutama spesialisasi Kebendaharaan Negara seperti saya. Sebagai loyalis KBN, tentu saya tidak bisa berpaling dari DJPB. #tsaaah

Oleh karena itu,  saya harus memasukkannya ke dalam salah satu pilihan saya dengan segala resiko yang harus siap ditanggung. Sebenarnya tidak ada larangan untuk tidak memilih DJPB tapi entah mengapa saya memang sudah berniat untuk memasukkannya ke dalam salah satu nominasi penempatan instasi. Padahal direktorat lain yang kantornya hanya ada di pusat sudah melambai-lambai menggoda untuk saya pilih. -___- Setelah menimbang-nimbang kedua instansi tadi, akhirnya saya memutuskan untuk menempatkan DJA di pilihan kedua dan DJPB di pilihan ketiga. Berarti pilihan saya adalah:
1. BADAN KEBIJAKAN FISKAL (BKF)
2. DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN (DJA)
3. DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN (DJPB)

Dengan mengucapkan basmallah, akhirnya saya klik “confirm” yang artinya tidak akan bisa diubah lagi pilihan yang sudah disusun. Tidak lama setelah itu, muncul kartu BPO saya dengan nomor 000953 dan lokasi ujian di Yogyakarta.

Kembali ke masalah pengumuman instansi eselon I Kemenkeu  tadi, 5 September adalah hari di mana instansi kami ditentukan. Sehari sebelum hari keramat itu, saya sengaja tidur cepat dan berdoa semoga mendapat yang terbaik sambil berharap bisa bangun pada  tengah malam untuk melihat pengumuman. Benar saja, ketika itu sekitar pukul 02.00 saya terbangun karena samar-samar saya mendengar ibu saya sedang ngobrol dengan adik tentang pengumuman penempatan instansi saya. Saya segera bergegas menyalakan laptop dan menyambungkan modem lalu membuka FB karena biasanya sudah ada link-link khusus tentang pengumuman penempatan instansi. Dan benar saja, di FB pun reaksi teman-teman sudah banyak yang heboh setelah melihat penempatan instansi masing-masing. Kebanyakan bersyukur dan menerima instansi yang sudah dipilihkan oleh Kemenkeu tapi tidak sedikit pula yang sunyi senyap tanpa berkata-kata. Mungkin itu bagian dari kekecewaan atau semacamnya karena tidak mendapat instansi sesuai keinginan atau mungkin karena mendapat instansi DJPB yang sudah terlanjur dicap sebagai instansi penempatannya jauh-jauh. Entahlah…

Saat itu memang banyak di antara kami, termasuk saya, yang tidak menginginkan penempatan DJPB karena masalah penempatan daerah yang akan sangat menyebar. Biarpun saya sebagai salah satu mahasiswa KBN, butuh pertimbangan khusus untuk memilih instansi DJPB yang akhirnya saya pilih juga saat mengisi nominasi penempatan instansi. Satu-satunya hal yang meragukan hanyalah masalah penempatan daerah. Beberapa hari sebelum pengumuman saya sempat terpikir untuk menghindari penempatan DJPB. Saya juga heran kenapa dulu meletakkan DJPB di pilihan ketiga. Andai waktu itu saya mengganti DJPB dengan instansi lain yang hanya ada di pusat mungkin saya tidak akan tegang ketika membuka pengumuman penempatan instansi. Tapi apa daya, keputusan sudah diambil. Saya sudah siap menerima resiko apapun.

Saya, didampingi ibu, kemudian membuka link pengumuman instansi. Setelah selesai mendownload, terbukalah pengumuman dalam format PDF itu, saya segera klik pada pencarian dengan menuliskan nama “ARYO WICAKSONO”. Beberapa detik kemudian muncullah nama saya beserta instansi penempatan dan waktu pemberkasan. Deeegggggg……



Jantung saya berdegup kencang tapi dengan ekspresi yang sangat datar begitu melihat ada 4 huruf di kolom instansi penempatan. DJPB!!!!!!!!!!!



Sempat tidak bisa berkata apa-apa dalam beberapa detik. Suasana yang sebelumnya ramai dengan suara ibu saya yang sudah tidak sabar membuka pengumuman instansi berubah menjadi hening seketika. Setelah beberapa detik hening, saya pun hanya mengucapkan dua buah kata ke ibu “DJPB bu.” Dengan suara lirih dan tatapan mata yang kosong. Ibu hanya berujar “Alhamdulillah le”. Seketika itu juga saya terbangun dari lamunan karena masih tidak percaya dengan apa yang saya lihat, kenyataan yang harus saya terima. Entah mengapa begitu tahu saya mendapat penempatan instansi di DJPB, hal yang pertama kali muncul di kepala saya adalah peta Indonesia dari Sabang sampai Merauke karena memang menurut pengalaman kakak-kakak tingkat, penempatan DJPB cenderung “kejam”. Karena tahu saya sedikit syok, ibu pun meninggalkan saya seorang diri dan beralih ke dapur supaya saya bisa menenangkan diri.

Entah mengapa saya sempat menyesali keputusan pemilihan instansi yang sudah disusun sebulan sebelumnya. Kenapa waktu itu saya pilih DJPB di pilihan ketiga? Kenapa tidak instansi lain saja yang ada di pusat? Kenapa harus saya yang ditempatkan di DJPB?

Saat itu, mental saya sempat drop dan masih belum bisa menerima kenyataan ini. Hal yang membuat saya sedikit “kecewa” adalah saat melihat penempatan teman-teman satu spesialisasi dengan saya. Ternyata alumnus spesialisasi KBN yang ditempatkan di DJPB “hanya” sekitar 50 orang atau sekitar seperempat dari jumlah keseluruhan alumnus KBN. Sebagian lainnya mendapat penempatan di Setjen, DJP, DJPU, DJA, dan lain-lain dengan porsi terbesar adalah DJP. Hal ini berbeda dengan penempatan tahun-tahun sebelumnya yang hampir 100% masuk ke DJPB. Bahkan sempat ada selentingan kalau apapun pilihan kita saat melakukan pendaftaran TKD, ujung-ujungnya “hanya” akan mendapat penempatan DJPB.
Saya tidak tahu pasti, mereka sengaja menghindari pemilihan DJPB atau memang sudah memilih DJPB tapi mendapat instansi yang lain. Menurut kabar burung, memang banyak yang sengaja menghindari DJPB dengan tidak memasukkannya ke dalam salah satu pilihan instansi penempatan karena takut mendapat penempatan daerah yang jauh.

Saat itu perasaan saya campur aduk antara senang, sedih, kecewa, marah. Yang jelas saat itu saya tidak bisa tidur sampai pagi. Yang saya lakukan hanyalah membuka FB melihat ekspresi teman-teman yang kegirangan mendapat instansi sesuai keingingan. Saat itu, lagi-lagi saya merasa seperti pecundang. Tiba-tiba teman saya (sebut saja Joko) curhat lewat chat di FB.

Joko: “Bro…”
Saya: “Halo rekan seperguruan. Haha..”
Joko: “Lu kemaren milih setjen ga?”
Saya: “Enggak. Haha… pilihan ane BKF, DJA, DJPB.”
Joko: “Jangan-jangan yang pada di pusat itu gara-gara emang sengaja ga milih DJPB.”
Saya: “Iya bro, emang banyak yg ga milih DJPB kok. yaudah lah gapapa. mungkin rejeki kita di DJPB. Hehe” (padahal ikutan nyesek juga)
Joko: “Susah emang membuang rasa pahit di hati ini.” (ceilaaah)
Saya: “Aku juga ngerasa agak nyesek sebenernya bro, tapi udah terlanjur jadi keputusan ga bisa diubah-ubah lagi. hehe.. tenang aja temen kita banyak kok” (sambil nguatin diri sendiri -___-)
Joko: “Gw ga bermaksud ngerendahin orang ya, tapi liat aja orang-orang kayak #$@, %&$, $@# malah dapet di pusat. Itu yang bikin nyesek’”
Saya: “Iya ane paham, tapi penentuan instansi ini kayaknya emang ngacak kok.”
Joko: “Lu masi berharap pengen ditaruh di pusat?”
Saya: “Ya iyalah bro, selama kesempatan masih ada, kita harus berusaha dapetin apa yang kita mau.”
Joko: “Yoa sip… yaudah gw mau minta diajarin nyuci n nyeterika sama emak”
Saya: “Wkwkwkwk….siiip bos.”

Percakapan saya dengan Joko tadi mungkin bisa mewakili perasaan kami yang mendapatkan instansi di DJPB. Perasaan yang benar-benar membingungkan. Dibilang senang bisa, dibilang sedih juga bisa. DJPB yang selama ini terlanjur terstigma menjadi instansi yang suram membuat kami langsung berpikiran yang negatif tentang masa depan kami di sana. Padahal belum tentu demikian.

Seharian itu dari dini hari jam 2 pagi hingga jam 6 pagi saya lebih banyak termenung meratapi nasib kenapa harus ditempatkan di DJPB. Untung teman baik saya memberikan banyak support supaya saya mengikhlaskan hati untuk menerima penempatan di DJPB. “Semua orang belum tentu dapat nasib sebaik kamu yang otomatis jadi pegawai Kemenkeu. Lihat di luar sana banyak yang mengantre untuk sekadar diterima menjadi pegawai Kemenkeu. Kamu yang udah enak ditempatin harusnya banyak-banyak bersyukur.” begitulah kata-katanya kepada saya. “Jangan terjebak apa kata orang. Yang sering dibilang negative itu belum tentu benar-benar negative. Lihatlah sisi positifnya supaya kamu bisa lebih bersyukur.” lanjutnya.

Pelan tapi pasti, saya mulai menerima kenyataan ini. Mulai menguatkan diri sendiri. Ibu yang sejak pagi hari tahu kalau saya sedang pusing memikirkan penempatan mulai memberikan semangat kepada saya. “Udah lah le, itu penempatan yang terbaik buat kamu. Ga usah disesali. Ibu bangga kok kamu ditempatkan di mana pun. Ibu malah senang kamu nurutin nasehat ibu untuk tidak milih pajak dan bea cukai.”
Saya hanya mengangguk dan mengambil nafas dalam-dalam supaya bisa lebih tenang. Daripada seharian galau, akhirnya saya memutuskan untuk mengurus surat sehat dan surat bebas narkoba ke RS Moewardi dengan nebeng adik yang sekalian berangkat kuliah.






3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. mas Aryo, njenengan tiyang Solo nggih? kulo Alfin, Mahasiswa KBN STAN angkatan 2013 asli Solo. Kulo saged nyuwun no hp ne njenengan? kulo badhe curhat2 niki, hehehe.. maturnuwun :)

    BalasHapus