KPPN Tipe A2 Liwa, Kantor Wilayah DJPB Propinsi Lampung
Begitulah kira-kira informasi yang ada di lembar kertas itu. Setelah mengetahui saya dapat penempatan di Kota Liwa, Lampung, yang notabene tidak jauh dari pulau Jawa, teman-teman memberikan selamat. “waahh..selamat ya. Enak dong deket cuma di Lampung.” Mmm...dekat ya. Yakin?
(FYI: dekat jika ditarik garis lurus dari peta itu tidak selalu dekat dalam arti yang sesungguhnya. Nanti akan saya ceritakan seberapa “dekat” Kota Liwa yang sebenarnya. Haha...)
Setelah ada kepastian mendapatkan penempatan di Kota Liwa, saya segera menelpon ibu. (percakapan dalam bahasa jawa, saya translate ke bahasa indonesia ya. ^.^)
Saya : “Assalamualaikum..buk....”
Ibu : “Waalaikumsalam le. Gimana kamu dapet penempatan di mana?”
Saya : “Alhamdulillah buk aku dapet penempatan di Liwa”
Ibu : “Liwa itu tempatnya di mana le. Ibu kok baru denger.”
Saya : “Liwa itu di Propinsi Lampung buk. Alhamdulilah gak jauh-jauh banget dari Jawa.”
Ibu : “Alhamdulillah le, ibu ikut seneng. Yang penting kamu ga dapet penempatan di Indonesia timur aja udah bagus.
Saya : “Iya buk. Yaudah ya buk, ini mau nyari tau penempatan temen-temen dulu. Assalamualaikum”
Ibu : “Oiya le, waalaikumsalam.”
(FYI: “Le” adalah panggilan untuk menyebut anak laki-laki dalam bahasa Jawa)
Sejenak saya mengamati suasana di halaman gedung ex-MA tempat dibagikannya SK Penempatan. Dari sudut ke sudut tergambar beragam ekspresi dari para pegawai baru setelah mendapatkan SK pertamanya. Ada yang nampak kegirangan karena dapat penempatan di ibukota propinsi, ada yang ceria karena dapat kota penempatan yang sama dengan teman lama, bahkan ada yang menangis karena dapat penempatan jauh terpisah dari cowoknya *ups.
Menarik sekali menyaksikan satu per satu ekspresi teman-teman begitu keluar dari aula gedung ex-MA setelah menerima SK. Ada yang keluar dengan ekspresi harap-harap cemas, tetapi ada juga yang keluar dengan berteriak-teriak heboh. Sementara itu, kami yang sudah menerima SK terlebih dahulu sibuk berkeliling untuk mencari tahu penempatan teman-teman lainnya. Entah mengapa suasana pada siang hari itu lebih didominasi perasaan riang gembira. Jauh sekali dari perkiraan saya. Saya sempat mengira dibagikannya SK akan memberi suasana yang galau dan sedih. Syukurlah kami semua bisa menerimanya dengan baik.
Kalau saya waktu itu malah bingung mau pasang ekspresi seperti apa. Perasaan saya biasa-biasa saja. Ekspresi datar --,--
Tapi kalau boleh jujur, saya sendiri merasa sedih, bukan karena kota penempatan, tetapi lebih karena harus berpisah dengan kawan-kawan yang sudah seperti saudara sendiri. Tiba-tiba teringat memori ketika awal-awal pengarahan di gedung yang sama setahun sebelumnya, serunya outbond 3 hari di Citarik, kebersamaan ketika On The Job Training (OJT) selama lebih dari 7 bulan, betahnya 3 minggu DTU dan DTSD di Gadog, “tersiksanya” kami digulung-gulung Kopassus ketika diklat Prajabatan, dan tentu saja kebersamaan selama 4 bulan magang jauh di KPPN Jakarta 5. Semuanya kami lalui bersama-sama. Sejak keluarnya SK itu berarti juga kebersamaan kita segera berakhir. T.T
Setelah menerima SK Penempatan, kami tidak kembali ke kantor magang kami masing-masing karena hari itu agendanya hanya pengarahan oleh Setditjen di kantor pusat. Oleh karena itu, untuk “merayakan” penempatan, kami satu kelompok pegawai magang KPPN Jakarta 5, meskipun tidak semuanya, bersama-sama main ke Atrium Plasa yang tidak jauh dari kantor. Berangkat dari Jalan Wahidin II tengah siang sekitar jam 11.00 dengan menumpang angkot, hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai Atrium Plasa. Di sana kami langsung menuju Platinum Resto untuk makan siang. Cukup lama kami nongkrong di sana, mungkin sejam lebih. Entah mengapa suasana di Atrium kali itu sangat sepi, tidak seperti biasanya. Percakapan kali itu didominasi tentang penempatan yang barusan diterima masing-masing dan disertai dengan candaan-candaan seperti biasanya.
Sangat jarang kami bisa kumpul-kumpul seperti ini, meskipun tidak full team. Seingat saya, terakhir kali kami bisa berkumpul yaitu ketika buka puasa bersama di Pejaten Village Mall, tidak jauh dari KPPN Jakarta 5. Memang sering kami main bareng, tapi mungkin hanya berempat atau berlima saja. Selesai makan siang, kami pun memutuskan untuk nonton film di XXI Atrium Plasa sembari menunggu waktu sore hari. Ketika itu kami memilih film “The Expendables 3”. Film dimulai jam 13.45 dan berakhir jam 15.45. Di dalam teater, saya lebih banyak mengantuk daripada fokus nonton film. Haha...
Ketika film berakhir, kami pun berpisah. Ada yang langsung pulang ke kosan dan ada juga yang mampir ke Matahari Atrium Plasa. Saya ikut main ke Matahari untuk sekadar jalan-jalan melepas penat. Setelah bosan dan waktu menunjukkan jam 16.00, saya memutuskan untuk pamit pulang ke kosan yang sebenarnya tidak jauh dari Atrium. Ternyata momen itulah terakhir kalinya kami, pegawai magang KPPN Jakarta 5, makan dan berkumpul bersama. Saya akan selalu mengingatnya.
Sebelum keluar dari Atrium Plasa, saya mampir dulu ke Breadtalk untuk beli roti favorit saya, Butter Sugar. Akhirnya saya berjalan keluar meninggalkan Atirum Plasa menuju kosan yang jaraknya mungkin hanya 8 menit berjalan kaki. Di perjalanan pulang itu ada perasaan yang sedikit janggal. Entahlah. Suasana sedih tiba-tiba menyelimuti saya sore hari itu. Saat masuk ke Jalan Kwini, tiba-tiba teringat memori saat awal-awal tinggal di sana. Jalan yang tiap pagi saya lewati untuk berangkat ngantor. Jalan yang nantinya tidak akan saya lewati lagi. Langkah menjadi berat karena memori itu akan sangat membekas meskipun belum ada setahun tinggal di sana. Matahari masih bersinar dengan terangnya meskipun sudah hampir senja, menemani hati yang menyadari bahwa harus segera pergi, meninggalkan semua kenangan.
“...apakah kau melihat langit mentari senja, mengajak untuk menerima keadaan saat ini dan terus maju. Dan bila kehilangan sesuatu, pastilah suatu saat nanti hal itu akan tergapai. Langit sekitar mulai berubah menjadi gelap. Dihias oleh titik garis yang terbentuk dari bintang-bintang. Sampai hari esok tibalah nanti. Lihatlah mimpi seperti dirimu sendiri...”
**********************************************************************************
Sekadar informasi, penempatan definitif angkatan kami semuanya tidak ada yang dapat di Jawa. Semuanya menyebar ke seluruh pelosok Indonesia mulai dari KPPN Sabang sampai KPPN Merauke, dari KPPN Atambua sampai KPPN Tahuna. Tiap kantor biasanya mendapatkan 2-3 orang pegawai baru, tetapi ada beberapa kantor yang hanya mendapatkan seorang pegawai baru. Jika dibandingkan dengan pernyataan sebelumnya yang menyebutkan bahwa kami hanya akan dapat penempatan di KPPN A2 di luar Jawa, NTB, Bali, dan Lampung, sepertinya kurang tepat. Karena pada kenyataannya, memang hanya Jawa yang tidak menerima pegawai baru. Di tempat “terlarang” lain seperti NTB, Bali, dan Lampung masih menerima pegawai baru. Tambahan lagi, penempatannya tidak hanya di KPPN A2. Memang sebagian besar di KPPN A2, tetapi banyak juga yang dapat penempatan di KPPN A1 daerah, KPPN A1 ibukota propinsi, dan kantor wilayah DJPB.
Apa dasar penempatan definitif?? Pertanyaan yang bagus.
Setditjen DJPB menyatakan bahwa penempatan kami diputuskan berdasarkan hasil TKD (Tes Kompetensi Dasar), hasil assessment, penilaian selama magang, dan DTSD (Diklat Teknis Substansi Dasar). #cmiiw
Sejak awal magang, kami sudah diberi tahu kewajiban untuk mengisi kegiatan kami selama magang ke dalam aplikasi SUNTARA dan di akhir sesi magang (sekitar bulan April/Mei 2014) kami diwajibkan untuk membuat semacam karya tulis dengan topik yang sesuai dengan tempat magang yang kita dalami. Tapi entah mengapa saya tidak terlalu percaya penentuan penempatan serumit itu. Haha...
Kalau boleh menebak-nebak, sepertinya ada keterkaitan antara daerah penempatan dan domisili. Akan tetapi, hal ini hanya berlaku bagi pegawai baru yang berasal dari luar Jawa. Sementara itu, mayoritas pegawai yang berasal dari pulau jawa tidak ada kaitannya sama sekali karena pegawai yang berasal dari Jawa tidak boleh dapat penempatan di Jawa. -,-
Pegawai baru yang berasal dari Sumatera cenderung dapat penempatan di Sumatera juga. Begitu pula dengan Kalimantan dan Bali. Pegawai baru yang berasal dari Sulawesi justru kebanyakan dapat penempatan di daerah Papua. Sementara itu pegawai baru yang berdomisili di Jawa mendapatkan penempatan yang menyebar dari Aceh sampai Papua. Entah ini valid atau tidak. Namanya juga ilmu kira-kira tapi memang begitulah adanya. Haha...
Satu hal yang harus dicatat, pola penempatan ini tidak selalu sama dari tahun ke tahun. Tiap tahun itu mempunyai tren yang berbeda. Untuk tahun-tahun berikutnya mungkin akan ada perbedaan tergantung kebijakan yang diambil ^.^.
Mungkin sekian dulu cerita saya kali ini.
Untuk teman-teman senasib seperbendaharaan, teruslah berjuang di tempat kalian masing-masing. Jangan jadikan jarak sebagai sebuah beban. Sulit memang berjauhan dari keluarga dan orang-orang terkasih. Anggaplah ini sebagai sebuah proses pendewasaan untuk kita. Kalau dulu waktu kuliah di STAN atau magang di Jakarta bisa tiap bulan pulang ke rumah. Dengan kondisi yang sekarang ini, bisa pulang 3 kali dalam setahun saja sudah sangat bersyukur. Jangan menyerah karena kita sudah berjalan sejauh ini. Teruslah berkarya kawan-kawanku semuanya. Semoga kita nanti bisa berjumpa lagi. Saya bangga menjadi bagian dari kalian.
Untuk adik-adik kelasku yang mungkin membaca tulisan ini, jangan pernah khawatir dengan momok yang bernama “penempatan”. Asal kita ikhlas dan menjalaninya dengan sabar, Insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Janganlah kau ragu menjadi bagian dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang tercinta ini. Biarlah orang lain berkata apa. Jangan ada sedikit pun keraguan di hatimu. Niatkanlah bekerja untuk beribadah. Doa orang tua selalu menyertaimu. Mari kita bersama-sama membangun negeri tercinta ini.
Assalamualaikum mas. Saya mau tanya sekarang mas masih di Lampung apa pindah? Makasih
BalasHapusdi liwa kalo nonton film biasanya di mall apa kak?
BalasHapus