Minggu, 05 Agustus 2012

Batik Solo Trans Saat Pulang PKL


Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman sewaktu PKL di KPPN Surakarta beberapa waktu yang lalu (11 Juni 2012 s.d. 6 Juni 2012). Eits...jangan salah, yang saya bahas bukan pengalaman kerja di KPPN Surakarta melainkan pengalaman naik sarana transportasi (yang menurut saya) baru di Kota Surakarta yang bernama Batik Solo Trans (BST). Menurut sumber yang saya dapatkan, sebenarnya BST ini sudah ada sejak tahun 2010. Soft launching-nya sendiri dilakukan saat H-10 Lebaran 2010. BST ini konsepnya hampir sama dengan bus transjakarta yang ada di ibu kota.

 

Yap, saya katakan hampir sama karena BST ini punya beberapa perbedaan dengan transjakarta, antara lain ukuran busnya yang jauh lebih kecil, haltenya juga lebih kecil, dan tidak dibutuhkannya jalur khusus (busway) sebagai sarana melintasnya bus ini. 
Jika dilihat dari ukuran dan jalurnya, BST ini lebih mirip dengan transjogja yang ada di Provinsi Yogyakarta. Hal yang menjadi pembeda hanyalah warna cat bus dan konsepnya saja. Jika transjogja berwarna kombinasi hijau dan kuning, BST didominasi warna biru. Selain itu, BST lebih terkonsep dengan ditonjolkannya motif batik pada sebagian badan bus. Bus yang dioperasikan oleh Perum Damri ini sekarang menjadi primadona baru sarana transportasi umum bagi masyarakat Kota Solo karena sangat nyaman dan jauh dari kesan ugal-ugalan seperti bus umum lain. Bus ini mulai beroperasi sejak pagi hari sekitar pukul 05.30 hingga sore hari sekitar pukul 19.00. Sebagai sarana transportasi umum, BST tidak hanya melayani penumpang dalam wilayah Kota Solo saja tetapi juga melayani penumpang hingga ke luar kota seperti Kartasura dan Karanganyar (Palur). Bahkan, BST juga mempunyai jalur hingga ke Bandara Adi Soemarmo untuk memudahkan wisatawan untuk keliling Kota Solo.

Dari segi interior, BST ini sangatlah nyaman jika dibandingkan dengan bus umum lain. Selain ada pendingin ruangan/AC, tempat duduk penumpang pun diatur sedemikian rupa dengan mengutamakan kenyamanan bagi para penumpang. Penumpang BST ini didominasi oleh pegawai dan mahasiswa yang pulang/pergi dari tempat kerja/kampusnya masing-masing, juga ada masyarakat umum yang menggunakan BST untuk sekadar keliling Kota Solo ataupun berwisata belanja di mal-mal yang dilalui BST. Petugas BST sendiri hanyalah terdiri dari 2 orang yaitu supir dan kondektur. Yang menjadi pembeda dengan bus lain, kondektur BST ini adalah seorang wanita muda. Pengguna jasa BST ini kebanyakan wanita, mungkin karena mereka merasa lebih aman dan nyaman jika bepergian menggunakan BST dibandingkan dengan bus umum lain. Penumpang BST ini seakan tidak pernah sepi karena memang  bus ini melintasi pusat keramaian yang ada di Kota Solo seperti Solo Grand Mall, Solo Square, berbagai macam bank dan kantor pemerintah, rumah sakit, serta kampus. Untuk sekali jalan, tiap penumpang dikenai tarif yang sama yaitu 3000 rupiah, kecuali untuk pelajar yang hanya 1500 rupiah. Dengan tarif yang murah dan tidak berbeda jauh dengan tarif bus umum lain, BST mampu bersaing dengan makin banyaknya bus dan angkutan umum yang melintasi Kota Solo.



Selain menyediakan puluhan unit bus BST, pemerintah kota Solo juga membuat beberapa halte untuk menunjang jalannya sarana transportasi ini. Tiap halte dibuat sangat minimalis dengan memanfaatkan taman kota yang ada di pinggir jalan yang tentunya juga menonjolkan unsur kebudayaan Wong Solo yang ditandai dengan penggunaan atap halte yang menyerupai atap rumah tradisional Jawa Tengah. Semua halte BST dibuat seragam dengan ciri khas cat berwarna merah. Jarak tempuh BST yang bisa dibilang sangat jauh yaitu dari Terminal Kartasura ke Terminal Palur atau sebaliknya tentu memakan waktu yang sangat lama. Saya sendiri pulang dari KPPN Surakarta ke Palur menggunakan BST membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Padahal kalau menggunakan sepeda motor hanya memakan waktu tidak lebih dari 20 menit.

Salah satu hal yang menjadi kenangan adalah beberapa kali saat saya PKL di KPPN Surakarta pulang menggunakan BST. Selama PKL di KPPN Surakarta, bisa dibilang saya lebih sering pulang dijemput adik daripada naik BST. Pulang dengan BST bisa dihitung dengan jari, yaitu sekitar 5 sampai 6 kali saja dalam sebulan. Saya naik BST hanya untuk pulang ke rumah, tidak untuk berangkat kerja ke kantor karena takut lama perjalanannya tidak sesuai dengan perhitungan. Kalau biasanya saya berangkat dari rumah pukul 06.30 diantar adik pasti kurang lebih pukul 07.00 sudah sampai kantor. Akan tetapi, naik BST pukul 06.30 belum pasti setengah jam juga sampai ke kantor padahal pukul 07.30 harus sudah masuk kantor.

Biasanya, selesai jam kerja yaitu sekitar pukul 17.00 saya langsung beres-beres tas dan buku yang ada di perpustakaan kantor. Setelah semuanya selesai, saya langsung keluar kantor lewat parkiran pegawai yang ada di samping toilet. Sementara itu, pegawai dan teman-teman kebanyakan sudah bersiap dengan motornya masing-masing untuk pulang, sedangkan beberapa ibu-ibu menunggu dengan setia jemputan suaminya dengan duduk-duduk di depan kantor. Apabila hari itu bukan hari Selasa atau Jumat , saya selalu memakai jaket terlebih dahulu sebelum keluar kantor. Maklum, jika tidak ditutup jaket, seragam putih-hitam saya terlihat seperti seragam office boy Solo Square. Lain ceritanya kalau hari Selasa atau Jumat saat memakai seragam batik. haha....

Untuk menuju halte, kebetulan di seberang jalan kantor ada halte BST. Biasanya saya menyeberang terlebih dahulu lewat jembatan penyeberangan persis seperti yang ada di gambar di atas. Setelah sampai di halte, saya duduk-duduk sejenak sambil menunggu datangnya bus. Biasanya tidak lebih dari 10 menit bus datang. Suasana di dalam bus sangat berbeda dengan di halte yang panas tadi. Dengan adanya AC yang berfungsi dengan baik, saya dapat menikmati perjalanan dari kantor ke Terminal Palur. Perjalanan yang memakan waktu 30 menit tadi melewati beberapa halte yang berada di tempat-tempat keramaian. Dengan hanya membayar 3000 rupiah, saya rasa sangat murah untuk mendapat pelayanan seperti ini. 

Pernah suatu ketika pulang naik BST kebetulan bertemu dengan salah satu ibu-ibu pegawai KPPN Surakarta. Beliau kebetulan mengenali saya sebagai mahasiswa PKL di kantornya sehingga beliau yang berbaik hati membayar karcis BST untuk saya. Sepanjang perjalanan, kami ngobrol basa-basi tentang berbagai hal. Ternyata rumah beliau juga masih sekomplek dengan saya, tepatnya di Perumahan RC. Suatu ketika beliau bercerita tentang anak-anaknya yang telah sukses mendapat pekerjaan di PLN Indramayu dan salah satu BUMN di bidang pertambangan di Palembang. Rupanya beliau hanya tinggal berdua di rumah bersama suaminya yang juga salah seorang guru di SMAN 1 Surakarta. Setelah beberapa saat ngobrol, akhirnya saya sampai juga di Terminal Palur. Karena sudah malam, saya dan ibu tadi memilih turun di samping Palur Plaza yang sedikit lebih ramai. Ternyata ibu tadi sudah dijemput oleh suaminya di sebelah toko buku Sri Agung, sedangkan saya sendiri menunggu dijemput adik selama beberapa menit.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar