Minggu, 22 Januari 2012

Hanacaraka Riwayatmu Kini







HA NA CA RA KA
DA TA SA WA LA
PA DHA JA YA NYA
MA GA BA THA NGA

Kalau melihat aksara Jawa ini, saya jadi teringat kembali kenangan saat masih jadi bocah SD, beberapa tahun yang lalu, ketika pertama kali saya diajarkan menulis dan menggunakan aksara Jawa oleh bapak guru Bahasa Jawa. Sebagai salah satu mulok (muatan lokal) di sekolah saya yang berada di daerah Jawa Tengah (Solo), tentu saja Bahasa Jawa masuk di dalamnya. 

Pada awalnya (kelas 1--3 SD), saya pikir pelajaran Bahasa Jawa hanya berkutat pada nembang (nyanyi), geguritan (pantun), dan hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan bahasa krama, ngoko (dalam Bahasa Jawa dikenal penggunaan bahasa yang berbeda untuk tiap tingkatan, tergantung lawan bicaranya)

Sebelum lanjut membahas aksara Jawa, kita bahas dulu tentang penggunaan bahasa krama deh. Berbeda dengan Bahasa Indonesia yang (saya rasa) tidak mempunyai tingkatan dalam berbahasa, Bahasa Jawa sangat memperhatikan penggunaan tingkatan bahasa tergantung siapa lawan bicaranya. Jika kita berbicara dengan orang yang lebih tua, kita harus menggunakan Bahasa Jawa krama halus (sampai sekarang saya pun masih belum bisa menguasainya dengan baik dan benar -_-). 

Untuk berkomunikasi dengan lawan bicara yang seumuran atau sudah kenal akrab, kita bisa menggunakan Bahasa Jawa ngoko. Bahasa Jawa ngoko pun ada beberapa jenisnya yang saya sendiri pun (lagi-lagi) sudah tidak ingat lagi. Bahasa Jawa ngoko sendiri merupakan bahasa sehari-hari yang dipakai dalam pergaulan dengan teman-teman sehingga saya (dan teman-teman seumuran saya) tidak mengalami kendala yang berarti. (mungkin lain kali kita bahas tentang keunikan Bahasa Jawa deh, hehe.....) 

Kembali ke bahasan kita sebelumnya, (seingat saya) aksara Jawa baru diajarkan ketika kami sudah kelas 4 SD. Pada awalnya, tidak ada yang menarik dari penulisan aksara Jawa ini. Saat itu, jujur saya belajar aksara Jawa hanya untuk mengejar tuntutan nilai supaya nilai akhir caturwulannya bagus dan naik ke kelas berikutnya.Yang muncul di benak saya hanya satu kata, "ribet". Mungkin Anda  yang dulunya belajar aksara Jawa ini juga sepemikiran. Yap..memang kenyataannya seperti itu. 

Mengapa saya bilang ribet? karena memang ada banyak peraturannya. Selain huruf (yang saya sebut) baku hanacaraka, ada juga tanda baca dan huruf mati yang disebut pasangan. Belum lagi aksara untuk angka, itu juga diatur tersendiri. Di luar 3 hal yang telah saya sebutkan tadi sebenarnya masih ada banyak hal lain yang harus dikuasai, tetapi tidak akan saya sebutkan di sini. Anda tanya saja mbah gugel untuk lebih jelasnya. hehehe....

Setelah lulus SD, saya pikir tidak akan ketemu lagi dengan mata pelajaran Bahasa Jawa, terutama aksara Jawa. Yang saya bayangkan tentang mata pelajaran di SMP itu hayalah biologi, fisika, dan mata pelajaran lain yang terkesan "elit". Setelah saya cek apa saja pelajaran di SMP, saya sedikit kaget karena harus ketemu lagi dengan Bahasa Jawa meskipun pertemuannya hanya 2 kali dalam seminggu. OH..NOOO

Tetapi berawal dari SMP inilah ketertarikan saya pada aksara Jawa mulai tumbuh. Kok bisa?? jawabannya satu kata, guru. Yappp...guru Bahasa Jawa saya saat SMP memang TOP. Beliau mampu membuat metode pengajaran yang efektif dan efisien sehingga kita sebagai muridnya dibuat penasaran oleh pelajarannya terutama aksara Jawa. Sejak saat itu, perlahan-lahan saya mulai menguasai penulisan dan penggunaan aksara Jawa, sampai hafal di luar  kepala gimana bentuk-bentuk hurufnya (lebay!!!). Bahkan sempat ikut lomba antarkelas buat kategori penulisan aksara Jawa lho (meskipun akhirnya gagal gara-gara tulisan saya yang "super" sehingga sulit dibaca T.T).

Sayangnya, ketika masuk SMA, mata pelajaran Bahasa Jawa ini sudah tidak begitu intens diajarkan karena (mungkin) sekolah lebih fokus pada mata pelajaran yang masuk ujian nasional. Hal ini juga yang perlahan-lahan menurunkan kemampuan saya dalam menulis aksara Jawa. Hingga saat ini duduk di bangku kuliah, perlahan tapi pasti kemampuan itu benar-benar menghilang. 

Sepertinya bahasa daerah bukan lagi menjadi prioritas karena anak-anak sekarang ini lebih tertarik belajar bahasa asing biar dibilang gaul atau apalah alasannya. Mereka lebih suka cas cis cus bahasa asing daripada ribet-ribet belajar bahasa daerah khususnya Bahasa Jawa. Seiring perkembangan zaman, bahasa daerah mulai tergerus dan perlahan hilang. Oh....hanacaraka, riwayatmu kini.



Buat yang pada belum tau arti aksara Jawa, berikut saya tuliskan makna per katanya yang diambil dari sumber internet (yang bahkan saya sendiri baru tau kalau ada makna per katanya -_-a)
  1. Ha…. Hana hurip wening suci (adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci)
  2. Na…. Nur candra,gaib candra,warsitaning candara (pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi)
  3. Ca…. Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi (satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal)
  4. Ra…. Rasaingsun handulusih (rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani)
  5. Ka…. Karsaningsun memayuhayuning bawana (hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam)
  6. Da…. Dumadining dzat kang tanpa winangenan (menerima hidup apa adanya)
  7. Ta…. Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa (mendasar ,totalitas,satu visi, ketelitian dalam memandang hidup)
  8. Sa…. Sifat ingsun handulu sifatullah (membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan)
  9. WaWujud hana tan kena kinira (ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas)
  10. La…. Lir handaya paseban jati (mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi)
  11. PaPapan kang tanpa kiblat (Hakekat Allah yang ada disegala arah)
  12. Dha.. Dhuwur wekasane endek wiwitane (Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar)
  13. Ja…. Jumbuhing kawula lan Gusti (selalu berusaha menyatu dan memahami kehendak-Nya)
  14. Ya…. Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi (yakin atas titah /kodrat Illahi)
  15. NyaNyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki (memahami kodrat kehidupan)
  16. Ma…. Madep mantep manembah mring Ilahi (yakin / mantap dalam menyembah Ilahi)
  17. Ga…. Guru sejati sing muruki (belajar pada guru nurani)
  18. Ba…. Bayu sejati kang andalani (menyelaraskan diri pada gerak alam)
  19. ThaTukul saka niat (sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan)
  20. NgaNgacrut busananing manungsa (melepaskan egoisme pribadi manusia)
nb: 

  • Yah...semoga bahasa daerah, tidak hanya Bahasa Jawa, tidak hilang dari peredaran. Minimal harus ada kesadaran dari diri sendiri untuk memelihara eksistensi bahasa. Akhir-akhir ini saya pelajari kembali penulisan aksara Jawa sebagai bagian dari kepedulian terhadap budaya sendiri. Siapa lagi kalau bukan kita-kita sendiri yang menjaga dan melestarikannya supaya anak cucu kita nantinya juga tau akan budaya yang salah satunya tergambar dalam BAHASA.

  • Menjaga atau  melestarikan budaya dan bahasa daerah bukan berarti anti terhadap budaya maupun bahasa asing. Kita bisa kok tetep pakai budaya atau bahasa asing asal jangan melupakan budaya kita, asal usul dan identitas kita. Sebisa mungkin seiring sejalan lah. Kita belajar budaya asing tapi juga belajar budaya sendiri. Kalau totally anti budaya asing hampir tidak mungkin karena blog, facebook, twitter, email, dll merupakan produk luar negeri. Apa bisa kita "hidup" tanpa itu semua di zaman sekarang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar